Google+ Followers

Kamis, 16 Januari 2014

Dian Fossey: Penyayang Gorila yang Meninggal Tragis di Logo google

https://www.google.com/logos/doodles/2014/dian-fosseys-82nd-birthday-5702250374627328-hp.jpg

Google hari ini tanggal 16 Januari 2014 memperingati ulang tahun Dian Fossey yang ke 82. Beliau yang lahir 16 Januari 1932 merupakan seorang ahli zoologi dan etologi yang mempelajari keluarga gorila di Rwanda selama periode 18 tahun.

Dianggap sebagai salah satu ahli primata terkemuka di dunia pada masa hidupnya, Dian Fossey, bersama dengan Jane Goodall dan Birutė Galdikas, dijuluki dengan Trimates, tiga ahli primata yang paling berpengaruh dalam primatologi.

Masing-masingnya meneliti tiga spesies primata berbeda (Fossey meneliti gorila; Goodall meneliti simpanse; dan Galdikas meneliti orangutan).

http://annpt.niko.vn/wp-content/uploads/2014/01/nha-dong-vat-hoc-dian-fossey-chuyen-nghien-cuu-khi-dot.jpg
Di kalangan awam, Dian Fossey dikenal dari film Gorillas in the Mist yang dibintangi oleh Sigourney Weaver. Film tersebut berdasarkan bukunya pada tahun 1983, dengan judul yang sama, menggabungkan studi ilmiahnya tentang gorila gunung di Karisoke Research Center dengan kisah pribadinya sendiri.

Dian Fossey ditemukan terbunuh secara sadis di rumahnya pada tanggal 26 Desember 1985, pada usia 53 tahun. Kasusnya tetap dibuka sampai sekarang. Walaupun salah satu dari muridnya ditangkap sebagai tersangka empat tahun kemudian, kematian Fossey tetap menjadi misteri.

Saudara ipar dari bekas presiden Rwanda, Protais Zigiranyirazo, juga disebut-sebut terlibat dalam pembunuhan Fossey. Protais Zigiranyirazo yang menjadi gubernur di provinsi tempat Fossey bekerja, mempunyai kepentingan untuk mengekspoilitasi gorila, yang sangat ditentang Fossey.
Protais Zigiranyirazo juga dianggap bertanggung jawab atas kematian 800.000 warga Rwanda (Genosida Rwanda) pada tahun 1994.

Beberapa bulan sebelum kematiannya, Dian Fossey menandatangani perjanjian dengan Warner Bros yang ingin membuat film dari bukunya yang terkenal, Gorillas in the Mist. Perjanjian ini menghasilkan uang satu juta dollar untuk Fossey.

Kekhawatiran musuhnya akan pembiayaan aktivitas Fossey untuk melindungi gorila dengan uang ini bisa juga menjadi salah satu alasan pembunuhannya. Beberapa organisasi yang dulunya menentang Fossey masih tetap menggunakan nama Dian Fossey untuk tujuan komersial sampai saat ini.
Pada masa genosida Rwanda pada tahun 1994, taman nasional di mana Fossey bekerja untuk menyelamatkan gorila, dihancurkan. Fossey dimakamkan disamping gorila kesayangannya, Digit, di Karisoke, Rwanda.

Hasil penelitian Dian Fossey telah membuka mata dunia akan hubungan gorila dengan manusia. Manusia jadi lebih tahu cara hidup gorila dan bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain.
Berkat hasil jerih payah Fossey, manusia jadi lebih tahu bahwa kehidupan gorila sangat terancam dan butuh campur tangan manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar