Google+ Followers

Rabu, 22 November 2017

Kimchi Day di Logo Google

https://www.google.co.id/logos/doodles/2017/celebrating-kimchi-5632225063206912.2-l.png

Apa itu Kimchi? Pertanyaan itu bakal muncul ketika kita pertama kali membuka halaman utama Google hari ini 22 November 2017. Pasalnya, Google doodle menampilkan bentuk kartun kimchi, masakan tradisional asal Korea Selatan bertepatan dengan Kimchi Day, alias hari perayaan untuk Kimchi.

Google doodle hari ini cukup unik karena menampilkan elemen yang membentuk huruf G-O-O-G-L-E dalam serangkaian jenis sayuran dan bumbu. Kuncinya ada di sebuah mangkuk yang menjadi pengganti huruf O kedua, yaitu masakan kimchi, jenis asinan sayur hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas.

Google memilih hari ini sebagai hari khusus untuk kimchi, karena dalam tradisi Korea Selatan, jika ada orang yang mulai menggarami Kimchi pada hari ini, maka Kimchi buatannya bakal punya cita rasa yang luar biasa.

https://cdn3.i-scmp.com/sites/default/files/styles/980x551/public/2015/04/21/food_53616c7465645f5f227c842cecb47f23.jpg?itok=AT-rORhx
(sumber gambar: https://cdn3.i-scmp.com)
Kimchi sendiri, meskipun asalnya bukan dari Indonesia, tampaknya cocok untuk lidah kita yang menyukai masakan dengan rasa pedas, asam, dan manis. Anda yang penasaran dengan masakan ini tidak perlu pusing. Belakangan, kemasan kimchi siap saji sudah beredar di berbagai wilayah di tanah air.

Selain itu, kita yang penasaran ingin mencicipi kimchi, dengan ramuan tangan sendiri, juga bisa melakukannya. Bahan-bahan untuk membuat kimchi tersedia di sekitar kita, yaitu sawi putih, lobak, kol dan mentimun. Cukup mudah untuk membuat kimchi, karena dengan modal pencarian Google, ada berbagai situs yang menyediakan cara membuat kimchi secara lengkap.

Dikutip dari Wikipedia, asal mula kimchi dapat dicek jejaknya paling tidak di periode awal zaman Tiga Kerajaan di China (37 SM sampai 7 Masehi). Ketika itu, masakan yang difermentasikan sudah banyak beredar.

Dalam catatan dari China pada 289 M terungkap pula bahwa “Orang-orang Goguryeo (mengacu pada orang Korea) terampil membuat makanan fermentasi seperti anggur, pasta kedelai dan ikan asin yang difermentasi.”

Saat ini terdapat lebih dari 180 variasi kimch, beberapa di antaranya yang cukup dikenal adalah adalah baechu-kimchi,  bossam-kimchi, baek-kimchi, dongchimi, nabak kimchi, dan kimchi bokembab.


Sumber : Sidomi

Kamis, 19 Oktober 2017

Ulang Tahun ke-107 S. Chandrasekhar di Logo Google

https://www.google.co.id/logos/doodles/2017/s-chandrasekhars-107th-birthday-5671696282419200.5-law.gif

Google Doodle hari ini, Kamis 19 Oktober 2017, bernuansa galaksi dengan taburan ilustrasi bintang. Ada siluet lelaki yang tampak serius mengamati bintang. Lelaki dimaksud adalah Subrahmanyan Chandrasekhar atau lebih dikenal dengan sebutan “ S. Chandrasekhar”.

Pria berdarah India-Amerika Serikat tersebut lahir pada hari ini di tahun 1910. Ia meninggal pada 21 Agustus 1995 di usia ke-84. Lantas, apa istimewanya S. Chandrasekhar?

S. Chandrasekhar meneliti dan menulis sejumlah buku yang hingga kini dijadikan rujukan untuk mengenal struktur dan evolusi bintang. Teorinya yang paling terkenal mengupas tentang bintang kerdil putih.

S. Chandrasekhar menunjukkan bahwa tekanan degenerasi mekanika kuantum tak bisa menstabilkan bintang raksasa.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/3/3a/ChandraNobel.png/220px-ChandraNobel.png
(sumber gambar: wikipedia)
Dari situ, ia merumuskan sifat-sifat dinamis galaksi bintang, transfer energi radiasi, stabilitas hidrodinamika dan hidromagnetika, stabilitas bilangan persamaan elips, hingga teori matematis lubang hitam alias black hole.

Buku terakhirnya berjudul “Newton’s Principia for the Common Reader”. 
Semasa hidupnya, S. Chandrasekhar dikenal karena hasrat dan kecintaannya yang besar terhadap ilmu pengetahuan, khususnya di sektor perbintangan dan matematika.

S. Chandrasekhar memang berasal dari keluarga akademisi. Pamannya adalah Chandrasekhar Raman, yakni fisikawan pemenang Nobel pada 1930.

Rekam jejak pendidikan dan karir S. Chandrasekhar bisa dibilang memukau. Ia menerima gelar Ph.D dari Universitas Cambridge.

Selama Perang Dunia II, S. Chandrasekhar bekerja di Research Laboratory di Aberdeen Proving Ground, Maryland.

Penulis Fatimah Kartini Bohang
Editor Reska K. Nistanto


Sumber : http://tekno.kompas.com

Rabu, 18 Oktober 2017

Studio Musik Elektronik di Logo Google


https://www.google.co.id/logos/doodles/2017/celebrating-the-studio-for-electronic-music-4914189628866560.3-l.png

Hari ini, Rabu 18 Oktober 2017, laman pencarian Google dihiasi doodle yang memadukan warna-warna cerah. Ada DJ set, speaker, amplifier, dan seseorang yang memainkan piano elektronik.

Google sedang merayakan kelahiran studio musik elektronik pertama di Cologne, Jerman, pada 18 Oktober 1951. Semua bermula dari diskusi santai beberapa legendaris seperti Werner Meyer-Eppler, Robert Beyer, Fritz Enkel, dan Herbert Eimert.

Mereka berasal dari latar belakang berbeda namun punya kecintaan yang sama terhadap musik elektronik. Werner Meyer-Eppler adalah dosen dan penulis buku, Fritz Enkel adalah teknisi, dan Herbert Eimer adalah komposer dan jurnalis.

Diskusi santai mereka memunculkan ide membuat studio sebagai wadah berkarya dan bertukar pikiran bagi para pemusik elektronik. Tak sekadar wacana, mereka mewujudkannya pada hari itu juga dengan memanfaatkan ruangan di radio publik Jerman bernama Westdeutscher Rundfunk.

http://www.pikiran-rakyat.com/sites/files/public/styles/medium/public/image/2017/10/studio%20musik%20elektronik.jpg?itok=g8jeHz90
(sumber gambar:http://www.pikiran-rakyat.com)
Fritz Enkel bertugas mengonsepkan format studio musik elektronik, sementara Herbert Eimer diamanahkan sebagai sutradara. Tak dinyana, inisiasi mereka mengundang perhatian para musisi di seluruh dunia.

Ini menandai era awal menjamurnya musik elektronik hingga sekarang. Musik elektronik memadukan suara-suara lalu disintesis sedemikian rupa. Prosesnya membutuhkan seperangkat alat elektronik dan komposisi teknis yang menguras kreativitas bermusik.

Hingga tahun 2000 lalu, studio pertama itu masih beroperasi dan menjadi “rumah” bagi musisi musik elektronik. Kini studio tua tersebut cukup menjadi saksi bisu sejarah perkembangan musik elektronik.


Sumber : http://tekno.kompas.com

Senin, 16 Oktober 2017

Ulamg Tahun ke-272 Olaudah Equiano di Logo Google

https://www.google.co.id/logos/doodles/2017/olaudah-equianos-272nd-birthday-5190660549246976-l.png

Google merayakan ulang tahun Olaudah Equiano yang ke-272 dengan Doodle hari ini tanggal 16 Oktober 2017. Pria yang dikenal dengan nama Gustavus Vassa selama hampir seumur hidupnya ini merupakan seorang pria asal Afrika yang cukup ternama di London.

Dia terlahir di provinsi Eboe, area yang kini dikenal sebagai Nigeria. Autobiografi dari Equiano memiliki peran penting dalam menghilangkan perdagangan budak di Inggris. Seperti yang disebutkan oleh Mirror, awal hidup Equiano tidak diketahui dengan jelas karena tidak ada catatan tentang itu.

Namun, dia diculik bersama saudara perempuannya ketika dia berumur 11 tahun. Dia dijual oleh pedagang budak lokal dan dibawa ke Barbados kemudian ke Virginia.

http://www.english-online.at/history/slavery/olaudah-equiano.jpg
(sumber gambar:www.english-online.at)
Di Virginia, Equiano dijual ke Michael Pascal, seorang letnan di angkatan laut. Pascal kemudian memberikan nama baru unuk Equiano yaitu Gustavus Vassa, sama seperti raja Swedia pada abad 16. Ketika itu, nama Equiano telah diganti dua kali. Ketika dia berada di kapal budak yang membawanya ke Amerika Serikat, dia dipanggil Michael. Kemudian, dia dipanggil Jacob oleh pemilik pertamanya.

Equiano mengarungi lautan dengan Pascal selama 8 tahun. Dalam perjalanannya, dia kemudian belajar tentang agama Kristen dan memilih untuk memeluknya. Selama itu, dia juga belajar tentang cara membaca dan menulis.

Pascal lalu menjual Equiano ke seorang kapten kapal di London, yang kemudian membawanya ke Montserrat. Di sini, dia dijual ke seorang pedagang ternama, Robert King. King menyuruh Equiano untuk membuat rute pengiriman barang dan juga bekerja di tokonya.

Dia juga bekerja sebagai kelasi, pelayan dan juga pemotong rambut. Dia mengumpulkan uang dengan berdagang sebagai pekerjaan sambilan. Pada 1765, ketika Equiano berumur 20 tahun, King berjanji dia bisa membeli kebebasannya seharga GBP40, sekarang bernilai GBP6,000 (Rp107,5 juta).

Dalam waktu kurang dari 3 tahun, dia berhasil mendapatkan cukup banyak uang untuk membeli kebebasannya. Dia dibebaskan pada 1767. Selama 20 tahun ke depan, Equiano banyak menghabiskan hidupnya dengan berpetualang, termasuk ke Turki dan Arktik.

Tahun 1786, dia menjadi bagian dari gerakan yang bertujuan menghilangkan perbudakan di London. Dia merupakan anggota ternama dari "Sons of Africa", grup yang terdiri dari 12 pria berkulit hitam yang ingin perbudakan dihapuskan.

Equiano menjadi teman dan mendukung orang-orang yang ingin menghapuskan perbudakan tersebut. Banyak dari mereka yang kemudian mendorong Equiano untuk menulis dan menerbitkan cerita hidupnya. Pada 1789, dia merilis autobiografinya.

Pengalaman pribadinya tentang perbudakan, perjalanannya untuk memajukan dirinya dan pengalamannya sebagai imigran berkulit hitam memunculkan sensasi. Buku ini membuat gerakan anti-perbudakan menyebar di Inggris, Eropa dan Amerika Serikat.

Penjelasan Equiano mengejutkan banyak orang. Sebagian pembaca merasa malu atas penderitaan yang dia hadapi. Autobiografinya, yang dirilis pada 1789, membantu terciptanya Hukum Dagang Budak 1807, yang menghentikan jual beli budak untuk Inggris Raya dan koloninya.

Pada 1792, Equiano menikahi seorang wanita asal Inggris, Susanna Cullen. Mereka memiliki 2 anak perempuan. Equiano meninggal pada 31 Maret 1791.


Sumber : http://teknologi.metrotvnews.com

Selasa, 10 Oktober 2017

Ulang Tahun ke-156 Fridtjof Nansen di Logo Google

https://www.google.co.id/logos/doodles/2017/fridtjof-nansens-156th-birthday-5694774550986752-law.gif

Jika Anda hari ini membuka kolom pencarian Google pasti Anda akan melihat sebuah animasi Fridtjof Nansen yang ada pada Google Doodle, di atas kolom pencarian. Anda mungkin bertanya, siapa dia? Dan apa itu Passport Nansen yang ada pada gambar?

Hari ini tanggal 10 Oktober 2017 Google merayakan ulang tahun ke 156 Fridtjof Nansen, dia adalah seorang penjelajah di akhir abad ke-19 yang lahir pada 10 Oktober 1861 di Norwergia. Prestasinya berkaitan dengan kegiatan ekspedisinya yakni di tahun 1893 dia menjadi orang pertama yang berhasil mencapai Kutub Utara hanya dengan berski. 

Jika Anda mengklik gambar Google Doodle tersebut maka animasi karakter berski di tengah akan bergerak. Itu adalah gambaran dia di tahun tersebut melakukan ekspedisi di belahan bumi yang selalu tertutup salju.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/9b/Fridtjof_Nansen_LOC_03377u-3.jpg
(sumber gambar : wikipedia)
Nansen sendiri tercatat pernah melakukan ski menyeberangi beberapa negara atau cross-country hingga sejauh 50 mil atau setara 80km hanya dengan perbekalan minim dan ditemani seekor anjing peliharaannya.

Dengan keahliannya bermain ski, dia menjadi gemar melakukan ekspedisi ke wilayah Kutub Utara. Namun, lambat laun ekspedisinya tidak hanya mengeksplorasi tempat baru. Dia juga mulai memiliki ketertarikan mempelajari habitat makhluk hidup yang ada di wilayah tersebut. Dia menjadi salah satu ahli di program studi zoologi pada The Royal Frederick University Oslo.

Nansen tercatat memiliki jasa besar terhadap bidang kemanusiaan ketika Perang Dunia 1 pecah di tahun 1914. Eropa saat itu menjadi medan perang terparah pertama, dan mau tak mau Nansen harus menghentikan ekspedisinya.

Nansen justru iba melihat nasib para pengungsi perang yang kehilangan kewarganegaraannya karena harus pergi menyelamatkan diri dari rumah dan negaranya masing-masing. Konferensi internasional Jenewa, Nansen memutuskan untuk membuatkan sebuah dokumen bernama Nansen Passport bagi para pengungsi yang diterima oleh 52 negara.

Nansen Passport yang digambarkan pada animasi Google Doodle di pojok kanan atas, memberikan kesempatan bagi para ratusan ribu pengungsi untuk bisa melakukan perjalanan ke 52 negara dan memilih untuk menetap sebagai warga negara baru. Meskipun dokumen perjalanan tersebut pada akhirnya sudah tidak diperkenankan oleh PBB, tetapi usaha Nansen diganjar dengan hadiah Nobel Perdamaian di tahun 1922.


Sumber : http://teknologi.metrotvnews.com

Senin, 09 Oktober 2017

Ulang Tahun ke-89 Bagong Kussudiardja di Logo Google

https://www.google.co.id/logos/doodles/2017/bagong-kussudiardjas-89th-birthday-6684224487686144.3-l.png

Google kembali mengangkat tokoh asal Indonesia sebagai doodle di laman utama mesin pencarinya. Kali ini dibuat untuk merayakan ulang tahun ke-89 dari Bagong Kussudiardja yang lahir pada 9 Oktober 1928 di Yogyakarta.

Bagong Kussudiardja merupakan seorang koreografer dan pelukis senior yang karyanya dikenal baik di dalam maupun di luar negeri. Sosok kartunnya dalam doodle digambarkan sedang duduk di kursi sambil menggenggam kuas cat.

Di latar belakang ada lukisan para penari beraneka kostum yang melompat gembira, agaknya terinspirasi dari beberapa karya Bagong Kussudiardja sendiri.

“Bagong mengawali perjalanannya dengan mempelajari seni, musik, dan tari Jawa,” sebut Google dalam laman doodle mengenai Bagong Kussudiardja, sebagaimana dirangkum KompasTekno, Senin (9/10/2017).

http://www.jogjasiana.net/photo/artist/bagong-kussudiardjo.jpg 
(sumber gambar : http://www.jogjasiana.net)
Bagong Kussudiardja kemudian berlatih tari Jepang dan India, lalu belajar koreografi dengan koreografer legendaris Martha Graham di Amerika Serikat pada 1957 hingga 1958.

Bekal tersebut dipakai mengembangkan tari tradisional di kampung halaman. Bagong Kussudiardja mendirikan Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja pada 1958, kemudian Padepokan Seni Bagong Kussudiardja pada 1978 di Bantul Yogyakarta.

Padepokan Seni yang bisa bebas dikunjungi oleh masyarakat umum tersebut menjadi lokasi salah satu adegan dalam film Ada Apa dengan Cinta 2 yang ditayangkan di bioskop pada 2016 lalu.

Bagong Kussudiardja, sang ayah dari dua tokoh seni Butet Kertaradjasa dan Djaduk Ferianto, menciptakan koreografi lebih dari 200 tarian, termasuk Layang-layang, Satria Tangguh, dan Bedhaya Gendeng.

Di samping aktif dalam koreografi, Bagong Kussudiardja juga dikenal dengan lukisan batiknya yang menggunakan berbagai gaya lukisan, dari impresionis, abstrak, hingga realis. Sang seniman multi-talenta ini tutup usia pada tahun 2004.

Penulis Oik Yusuf
Editor Deliusno
Sumber : http://tekno.kompas.com

Sabtu, 23 September 2017

Ulang Tahun ke-100 Asima Chatterjee di Logo Google

https://www.google.co.id/logos/doodles/2017/asima-chatterjees-100th-birthday-4652731129135104.2-l.png

Google Doodle hari ini, Sabtu 23 September 2017 menampilkan sosok wanita berkacamata yang tampak sedang memejamkan mata. Di sekelilingnya, lambang struktur molekul kimia disusun membentuk kata “Google”.

Sang tokoh yang diangkat sebagai tema tersebut adalah Asima Chatterjee, seorang wanita asal India yang berprofesi sebagai ahli kimia. Doodle yang dibuat oleh Google dibuat untuk merayakan ulang tahun ke-100 dari Asima Chatterjee yang lahir di Bengal, pada 23 September 1917.

Asima Chatterjee meniti karir di masa-masa saat wanita jarang ditemukan menggeluti studi kimia. Bukan hanya itu, dia kemudian menjadi wanita pertama di India yang meraih gelar Doctorate of Science.

Dalam studinya, Dr. Asima Chatterjee mempelajari tanaman-tanaman di India yang bisa digunakan sebagai obat. Inilah makna dari daun-daun yang ikut menghiasi Google Doodle.

http://ssbprize.gov.in/WriteReadData/AwardeePhotos/Dr%20A%20Chatterjee%20(1961).JPG
(sumber gambar: http://ssbprize.gov.in)
Penelitian Asima Chatterjee sepanjang karirnya banyak menyumbang pada pengembangan obat-obatan untuk mengobati epilepsi dan malaria.

Buah karya Asima Chatterjee yang paling dikenal dan diakui oleh dunia adalah penelitian soal vinca alkaloid. Diperoleh dari tanaman yang tumbuh di Madagaskar, vinca alkaloid kini digunakan di kemoterapi karena sifatnya yang menghambat perkembangan sel kanker.

Kerja keras dan pencapaian Asima Chatterjee diakui oleh universitas-universitas di seluruh dunia. Penghargaan pun berdatangan atas kontribusinya pada dunia medis dan ilmu pengetahuan.

Asima Chatterjee, misalnya, memperoleh penghargaan tertinggi Padma Bhushan dari pemerintah India. Ia juga menjadi wanita pertama yang memperoleh Shanti Swarup Bhatnagar Award di bidang kimia.

Asima Chatterjee  mendirikan Departemen Ilmu Kimia di Lady Brabourne College dan ikut mendidik generasi-generasi berikutnya dari para ilmuwan kimia di India lewat sebuah institut riset.

PenulisOik Yusuf
EditorDeliusno

sumber :  http://tekno.kompas.com