Google+ Followers

Senin, 29 April 2013

5 Orang Amerika Serikat yang Membelot Ke Korea Utara

Isu-isu yang dikeluarkan oleh Korea Utara hingga kini masih membuat gusar Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan dan sekutunya. Bahkan tak jarang isu-isu kecil pun mampu menjadi propaganda besar, baik oleh Korea Utara sendiri maupun lawan politik dan ideologinya.  Meskipun demikian banyak terjadi pembelotan yang dilakukan oleh warga Korea Utara ataupun sebaliknya (asing ke Korea Utara). Berikut 5 orang Amerika Serikat yang membelot ke Korea Utara:

1. Joseph White
(Sumber:wordpress.com,uniknya.com)
Peristiwa pembelotan yang popular di Amerika Serikat ini terjadi pada 1982.  Seorang tentara Infantri  yang bertugas di kawasan Zona Demiliterisasi (DMZ) antara Korut dan Korsel, Joseph White, menerobos kawat perbatasan dan membelot ke Korea Utara (sementara pihak AS menyatakan ia Hilang Dalam Tugas). Ia melakukan hal tersebut karena muak akan korupsi dan hedonisme yang terjadi di Amerika Serikat.
Setelah beberapa tahun aksi pembelotan, dan pemerintah AS seakan tidak peduli, datanglah sebuah surat yang menyatakan bahwa Joseph berada di Korea Utara dan bekerja sebagai guru sekolah. Namun dua tahun kemudian tersiar kabar pula bahwa Joseph hilang akibat tenggelam ketika sedang memancing, peristiwa hilangnya Joseph hingga kini masih berupa misteri.

2. Charles Jenkins
http://toyfj40.freeshell.org/Stories/SgtCharlesJenkinsB.jpg
Lain lagi dengan Charles Jenkins, pada 4 Januari 1965 ia tidak lagi mengakui LBJ (Lyndon B. Johnson) sebagai presidennya melainkan Kim Il-Sung. Keputusan Jenkins yang oleh pihak AS didasari oleh ketakutan terhadap pengiriman dirinya ke Vietnam, dan ia lebih memilih Korea Utara sebagai ‘rumah apinya’.
Jenkins melewati kawasan DMZ dan menyatakan menyerah kepada pihak Korea Utara, dengan niat agar dapat dibuang ke Uni Soviet oleh pihak Korut. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, Jenkins tinggal di Korut selama hampir 30 tahun. Hingga akhirnya ia mampu meninggalkan Korut dan berada di Jepang pada 1996. Di sana ia dilindungi oleh  Kedutaan Besar Uni Soviet, dan menyatakan permintaan maafnya untuk yang kedua kali kepada pemerintah AS, namun ditolak setelah yang pertama pada 1966. Meski berdasarkan pengakuannya, kehidupan Jenkins di Korea Utara sangatlah menakutkan dan menyakitkan.

3. Larry Abshier 
http://i.ytimg.com/vi/ssP98RQ129M/0.jpg
Larry Abshier membelot ke Korea Utara pada 1962, ia adalah seorang pembuat film propaganda (Evil American in North Korea). Sehingga keberadaannya di Korea Utara seperti kunjungan seorang selebritas dunia, Larry disegani dan dihormati atas profesi dan kepandaianya dalam propaganda. Namun seperti pembelot lainnya, Larry pun dipekerjakan secara paksa oleh penguasa Korut, Kim Il-Sung. Ia dengan bakatnya diharuskan menyebarluaskan berbagai prosa karya Kim Il-Sung ke seluruh dunia.
Di Negara barunya beberapa kali Larry menikahi perempuan-perempuan yang disediakan oleh pemerintah. Larry Abshier meninggal pada 1983 dan diberikan upacara pemakaman bak seorang pahalwan Korea Utara. Di atas nisannya dituliskan, ia terlahir di Kota Pyong Yang.

4. James Dresnok
http://cineplex.media.baselineresearch.com/images/240070/240070_large.jpg
Satu tahun sebelum Larry Abshier tiba, James Dresnok adalah seorang pembelot di Korut. Ia memilih Korea Utara karena selalu dihantui oleh masaka kanak-kanak, pernikahan dan kehidupan militer Amerikanya. Meskipun demikian, pihak militer AS tidak menyesali pembelotan yang dilakukan oleh Dresnok, mereka mengenali Dresnok sebagai tentara yang malas dan sering mengeluh. Namun semenjak menjadi warga Korea Utara, Dresnok dikabarkan telah tiga kali menikah dan hidup bahagia di Kerajaan Kim Il-Sung.

5. Jerry Parrish
http://www.jerryparrishrealty.com/images/jerryparrishsmall.jpg
Pembelot AS yang terakhir adalah Jerry Parrish pada 6 Desember 1963. Alasan pembelotannya sangat pribadi dan klise yakni, ia takut dimarahi oleh ayah tirinnya ketika tiba di Amerika setelah berperang di Korea Utara. Dikabarkan ia telah menghabiskan dua dekade untuk berada di Korea Utara, dengan berprofesi sebagai guru bahasa asing di Reconnaissance Bureau Foreign Language College, sebuah akademi militer di Pyong Yang.

2 komentar: