Google+ Followers

Rabu, 19 September 2012

7 Pendahulu “Preanger Planters” di Bandung

Preanger Palnters adalah julukan Belanda bagi pengusaha perkebunan Priangan, tempoe doeloe.  Sosok-sosok  mereka mewarnai “Parijs van Java” ketika itu, sebagai kota yang memiliki kultur perkebunan berandil besar terhadap pasokan komoditi unggul Kina, Kopi dan Teh di dunia. Untuk mengenang kebesaran dunia perkebunan pada masa itu, setidaknya tercatat lima orang Eropa di Tatar Priangan yang terbilang generasi pendahulu. Mereka merupakan orang-orang perkebunan yang sejarah hidupnya punya kaitan erat dan kontribusi yang begitu besar dengan sejarah Kota Bandung. Berikut 5 generasi pendahulu “Preanger Planters” di Bandung.

1. Pieter Engelhard

Pieter Engelhard adalah orang Eropa pertama yang terbilang membuka lahan perkebunan di daerah sekitaran Bandung. Perkebunannya dulu, terletak di daerah selatan Gunung Tangkubanperahu, beberapa pal dari Kota Bandung yang sekarang kurang lebih kawasan tanjakan Jl. Setiabudhi Bandung. Penanaman kopi yang dilakukan Enggelhard, dimulai pada tahun 1789 dengan mengerahkan ratusan penduduk pribumi. Hasil dari perkebunan Engelhard, berhasil menghasilkan bibit kopi berkualitas baik yang kelak dikenal dengn “Javakoffie”. Javakoffie cepat mendapat pasaran di Eropa hingga menuai keuntungan memusakan pada tahun 1807. Sejak saat itulah, penduduk pribumi Priangan banyak beralih kerja, dari sawah ke usaha perkebunan kopi.

2. Dr. Andries de Wilde

Andries sebenarnya adalah seorang ahli bedah yang berdinas pada pasukan artillerie, dan juga pembantu utama dari Gubernur Jendral Hindia Belanda Herman Willem Dendels. Kemudian pada masa pemerintahan Inggris di Hindia Belanda, ia ditempatkan sebagai Assistant to the Resid
ent at Bandong pada 10 Agustus 1812. Andries memiliki tanah perkebunan yang luasnya meliputi setengah dari luas Kabupaten Bandung yang ditanaminya dengan kopi dan berternak sapi. Gudang kopinya dahulu terletak di sebuah lahan di pusat Kota Bandung yang kini ditempati oleh Kantor Walikota Bandung .

3. Franz Wilhelm Junghuhn

Franz Wilhelm Junghuhn lahir di Mansfeld pada 26 Oktober 1809 – meninggal di Lembang, 24 April 1864 pada umur 54 tahun. Ia adalah seorang naturalis, doktor, botanikus, geolog dan pengarang berkebangsaan Jerman (lalu Belanda). Dialah sosok pertama yang menanam bibit varietas unggul Kina ke Pulau Jawa, tepatnya Bandung. Ia pula yang berhasil mengangkat nama Bandung hingga terkenal di sebagai gudang penghasil bubuk Kina yang utama di dunia. Patut dicatat, bahwa pada masa sebelum Perang Dunia II, lebih dari 90% kebutuhan bubuk kina di dunia, dipenuhi oleh perkebunan dan pabrik kina di wilayah sekitaran Bandung. Pabrik peninggalannya kini masih berdiri kokoh dan beroperasi di Jl. Padjajaran, Bandung.

4. Karel Albert Rudolf Bosscha

Selain sebagai tuan tanah perkebunan, Bosscha merupakan orang yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi pada masa itu dan juga merupakan seorang pemerhati ilmu pendidikan khususnya astronomi. Pada bulan Agustus 1896 Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar. Dan pada tahun-tahun berikutnya, ia menjadi juragan seluruh perkebunan teh di Kecamatan Pangalengan. Selama 32 tahun masa jabatannya di perkebunan teh ini, ia telah mendirikan dua pabrik teh, yaitu Pabrik Teh Malabar yang saat ini dikenal dengan nama Gedung Olahraga Gelora Dinamika dan juga Pabrik Teh Tanara yang saat ini dikenal dengan nama Pabrik Teh Malabar.
Pada tahun 1901 Bosscha mendirikan sekolah dasar bernama Vervoloog Malabar, yang kini menjadi  Sekolah Dasar Negeri Malabar II. Pada tahun 1923, Bosscha menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan Technische Hoogeschool (ITB) dan Observatorium Bosscha yang telah lama diharapkan oleh Nederlands-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV). Atas jasa-jasanya pada Kota Bandung, Ia dianugerahi penghargaan sebagai Warga Utama kota Bandung dalam upacara kebesaran yang dilakukan Gemente di Kota Bandung.

5. Rudolf Albertus Kerkhoven

Perkebunan teh milik R. A. Kerkhoven terbentang luas didaerah Arjasari dan Gambung, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Selain sukses sebagai pionir penanaman teh di Bandung, Kerkhoven terkenal pula dengan pandangannya yang ethis bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat di tatar Pasundan. Bersama sepupunya Bosscha, Kerkhoven mengambil inisiatif untuk mendirikan Strrenwacht (Peneropongan Bintang) modern pertama di Indonesia.

6. Bertus Coops
 
Anak dari Fredrik Coops dan Johanna Gerharda van der Meij ini ditunjuk sebagai wali kota pertama Bandung pada tanggal 1 Juli 1917 dan secara resmi memegang jabatannya pada bulan Agustus 1920. Setelah masa cuti setahun di Belanda, ia kembali lagi pada bulan Agustus 1921. Ia kembali diangkat sebagai wali kota pada tahun 1928.
Selama masa pemerintahannya, Bandung mengalami pembangunan yang teramat pesat, bangunan dan struktur di sekitarnya direalisasikan. Pusat perbelanjaan paling mahsyur seantreo Hindia Belanda di bangun di kawasan Bragaweg  (Jalan Braga). Di masa kepemimpinannya pula, bandung menemui masa keemasannya yang kelak melahirkan julukan Parijs van Java.
Ia juga menjabat sebagai presiden kurator untuk Technische Hoogeschool te Bandoeng (ITB) yang baru dibuka. B. Coops lahir di Doesburg, 27 September 1874 – meninggal di Den Haag, 12 Januari 1966 pada umur 91 tahun

7. Herman Willem Daendels

Orang pribumi dulu, menyebutnya dengan “Marsal Galak”. Dialah Herman Willem Daendels, Gubernur Jendral Hindia Belanda yang memerintah antara tahun 1808 – 1811. Masa dimana Kerajaan Belanda sedang dikuasai oleh Kekaisaran Perancis. Salah satu rencana besarnya adalah membangun mega proyek yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan, yang kelak dinamai dengan Groote Postweg atau Jalan Raya Pos. Sekitar 30.000 pribumi terbunuh dalam mega proyek tersebut. Walaupun terkenal dengan kekejamannya, Daendels adalah orang yang memiliki jasa besar perihal keberadaan Kota Bandung.
Konon menurut cerita, ketika pembangunan Jalan Raya Pos melewati dusun Bandung dan harus membelah sungai Cikapundung, maka sebuah jembatan untuk menghubungkan jalan tersebut dibangun. Pada hari peresmiannya, Daendels ditemani Wiranatakusumah II (Bupati Kabupaten Bandung saat itu), berjalan ke arah timur. Lalu pada suatu titik, Daendels menancapkan tongkatnya dan berkata “Zorg, dat als ik terug kom hier een staad is gebouwd”, yang kurang lebih artinya “Usahakan, jika aku kembali ke sini, di daerah ini telah dibangun sebuah kota”. Seperti yang kita ketahui, Bandung, pada tahun 1800-an awal, hanyalah sebuah dusun kecil.
Tak lama setelah kejadian tersebut, terbitlah sebuah surat perintah menginstruksikan perpindahan Ibu Kota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke sisi Groote Postweg. Dan tempat dimana konon Daendels menancapkan tongkatnya dijadikan titik nol kilometer Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar