Google+ Followers

Selasa, 23 September 2014

6 Pengurus Sepak Bola yang Tersandung Hukum

Penulis: Nasir/Rachmat
Olahraga bukan hanya persoalan menang dan kalah. Banyak nilai postif yang tercetus dari kegiatan ini. Contohnya saja sepak bola. Setiap laga selalu dimulai dengan pengusungan bendera fair play ke tengah lapangan. Tujuannya, mengingatkan para pemain, wasit, pelatih, dan pengurus asosiasi untuk berlaku sportif.

Namun hasrat untuk menang terkadang mendorong seseorang untuk melanggar prinsip bermain adil itu. Hingga banyak pengurus asosiasi sepak bola yang tidak berlaku sportif, bahkan berurusan dengan hukum. Berdasarkan penelusuran Plasadana.com untuk Yahoo Indonesia, berikut enam pengurus asosiasi sepak bola yang pernah terseret masalah hukum:

1. Nurdin Halid
http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/Nurdin-Halid-PSSI-0002.jpg
Nurdin Halid merupakan mantan ketua umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang sarat dengan kontroversi. Mulai dari memimpin PSSI dari balik terali besi, menaturalisasi pemain, sampai menambah jumlah peserta Liga Indonesia tiap tahun sehingga tidak ada klub yang terdegradasi.
Tak hanya kebijakan PSSI yang ia buat kontroversial. Pun kelakuannya di luar dunia sepakbola. Sejak 2004, pria kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan, ini akrab dengan masalah hukum. Hingga ia harus masuk keluar bui.
Misalnya saja pada 16 Juli 2004. Nurdin yang menjabat ketua umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) periode 2004-2009, menjadi tersangka dan ditahan karena kasus dugaan penyelundupan gula impor ilegal 73 ribu ton. Begitu pula dalam perkara dugaan korupsi distribusi minyak goreng di Koperasi Distribusi Indonesia (KDI).
Meski Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sempat menyatakan Nurdin Halid tidak bersalah atas tuduhan tersebut, Mahkamah Agung memvonisnya dua tahun penjara pada 13 Agustus 2007.
Ia juga menghadapi tuntutan 10 tahun penjara dalam kasus gula impor ilegal 56 ton dengan kerugian negara Rp3,4 miliar, September 2005. Namun majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara menolak dakwaan dengan alasan berita acara penyidikan cacat hukum.
Dalam kasus pelanggaran kepabeanan impor beras dari Vietnam, Nurdin mendapatkan ganjaran penjara 2 tahun 6 bulan di Rumah Tahanan Salemba, 9 Agustus 2005. Namun baru satu tahun masa hukuman, mendapatkan remisi Hari Kemerdekaan Indonesia.

2. Carlo Tavecchio
http://forzaitalianfootball.com/wp-content/uploads/2014/07/Carlo-Tavecchio.jpg
Carlo Tavecchio adalah presiden federasi sepak bola Italia (FIGC) yang baru terpilih awal Agustus 2014. Meskipun baru beberapa bulan memimpin, pria kelahiran 13 Juli 1943 itu langsung mengundang kontroversi. Bahkan banyak kalangan yang menganggap rival Tavecchio, Dimitrio Albertini, lebih pas menjabat posisi orang nomor satu dalam persepakbolaan Italia.
Ini terjadi karena Tavechio sempat melontarkan pernyataan rasis dan menyinggung pemain berkulit hitam. Pada pidato di pemilihan, ia sempat membahas soal banjir pemain asing di Italia.  Kala itu, Tavechio mengeluarkan pernyataan yang mengacu kepada pemain fiktif, bernama Opti Poba. Kata Tavechio, Opti Poba dulunya pemakan pisang dan kini menjadi pemain tim utama Lazio.
Pengadilan Italia pun langsung menyelidiki kasus ini. Namun jaksa penuntut Stia Punefano Polazzi menutup kasus, dengan kesimpulan tak menemukan pelanggaran disiplin oleh Tavecchio.

3. Ricardo Teixeira
http://noticias.r7.com/blogs/marcos-pereira/files/2012/02/ricardo-teixeira-450.jpg
Mantan presiden konfederasi sepak bola Brazil (CBF), Ricardo Teixeira, juga bermasalah. Pria kelahiran Carlos Chagas, negara bagian Minas Gerais, ini sebetulnya tidak memiliki pengalaman dalam dunia sepakbola. Tapi ia berhasil terpilih sebagai presiden CBF pada 1989. Keberhasilan Teixeira menduduki posisi ini ditenggarai akibat kedekatannya dengan mantan Presiden Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) Joao Havelange. Yang tak lain adalah mertua Teixeira.
Di bawah kepemimpinan Teixeira, tim nasional Brazil memang berhasil menjuarai berbagai turnamen bergengsi. Seperti Piala Dunia 1998 dan 2002, serta empat kali menjuarai Copa Amerika. Namun banyak kasus hukum pula yang membelit Texeira.
Pada 2000, polisi Brazil menyelidiki dugaan dua kasus korupsi dan salah urus dalam persepakbolaan nasional. Penyelidikan berujung dengan 1.600 laporan yang mengacu pada tindak korupsi ke-16 klub unggulan. Juga penyalahgunaan pajak oleh jajaran direksi CBF pimpinan Teixeira.
Sementara kala 2010, Teixeira diduga menerima suap hampir sebesar 6 juta poundsterling, atau Rp86 miliar, dari perusahaan televisi FIFA yang bangkrut pada 1990-an. Namun ia menyangkal semua tuduhan. Argmentasi Teixeira, suap itu batal setelah Inggris gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia.

4. Nan Yong
http://i.cdn.turner.com/cnn/2010/SPORT/football/01/22/football.china.nan.yong/t1larg.nanyong.gi.jpg
Nan Yong adalah mantan ketua umum Chinese Football Association (CFA) atau PSSI-nya Cina. Sebagai kader Partai Komunis yang berkuasa, Nan memang punya akses bagus pada CFA. Toh penghuni CFA kebanyakan adalah kader Partai Komunis.
Nan mulai aktif menjadi pengurus CFA pada 1999. Dalam politik, karier Nan terbilang gemilang. Ia resmi menjadi sekretaris Partai Komunis pada 2005. Ini membuka jalan bagi Nan ke jenjang ketua umum CFA pada Januari 2009.
Namun di posisi puncak, Nan tersangkut masalah hukum. Ia diduga menerima suap dari wasit dan pengurus klub, sejak aktif di CFA. Indikasi ini menguat karena ia berhasil melipatgandakan kekayaan hingga ratusan lipat, meski baru setahun menjadi pemimpin CFA.
Mencium gelagat tak beres dari kekayaan Nan yang sangat mencolok mata, polisi menciduk Nan dan sejumlah pelaku sepak bola lain. Skandal Nan Yong ini sangat mengguncang persepakbolaan China karena melibatkan pejabat teras di CFA. Ia pun menerima hukuman penjara 10,5 tahun karena menerima suap lebih dari 1,48 juta yuan.

5. Xie Yalong
http://static.guim.co.uk/sys-images/Guardian/Pix/pictures/2012/6/13/1339580268764/Xie-Yalong-008.jpg
Skandal suap dan pengaturan skor di persepakbolaan Cina tidak hanya menjadikan Nan Yong sebagai pesakitan. Pendahulu Nan, Xie Yalong, juga menjadi terdakwa dan diduga terlibat dalam mega skandal itu.
Xie Yalong didakwa menerima suap lebih dari US$250 ribu. Xie Yalong terganjar hukuman penjara 10,5 tahun dan denda sebesar 200 ribu yuan.

6. Franco Carraro
http://sport.sky.it/static/images/sezioni/sport/luglio_09/franco_carraro.jpg
Pada 2006, publik dunia heboh dengan kasus pengaturan skor di persepakbolaan Italia. Tidak hanya membuat Juventus kehilangan gelar Scudeto dan terdegradasi ke Serie B, mega skandal Calciopoli itu juga melengserkan Franco Carraro, presiden federasi sepak bola Itialia (FIGC) saat itu. Carraro juga wajib membayar denda 80 ribu euro.


Sumber : Yahoo

1 komentar: