Google+ Followers

Jumat, 31 Agustus 2012

10 Pemain Bintang yang Gagal di Klub Barunya

Kaka yang dibeli Real Madrid dengan harga sangat mahal dari AC Milan, kini bernasib tak menentu. Di Los Blancos bintangnya redup, bahkan tidak masuk dalam rencana masa depan Jose Mourinho.
Padahal bintang asal Brasil itu harus mengambil keputusan berat ketika meninggalkan AC Milan pada 2009 lalu. Namun dalam kisah sepak bola, dia bukan satu-satunya bintang yang gagal bersinar di klub baru. Inilah 10 di antaranya:

1. Kaka

Penyerang bernama asli Ricardo Izecson dos Santos Leite ini begitu bersinar saat bermain di klub AC Milan. Bersama klub Italia itu, Kaka berhasil menyabet penghargaan  Ballon d'Or dan FIFA World Player of the Year pada 2007. Madrid pun memboyongnya dengan harga 65 juta euro untuk enam tahun kontrak. Sayangnya setelah sempat cedera pada 2010, karirnya langsung redup.

2. Klaas-Jan Huntelaar

Bintang asal Belanda ini bersinar saat bermain bersama Ajax Amsterdam, yang merekrutnya pada 2006. Dari total 47 pertandingan bersama Ajax, Huntelaar mampu melesakkan 44 gol. Namun kapten Ajax itu gagal bersinar di Real Madrid (2008-2009) dan AC Milan (2009-2010). Kini, Huntelaar bergabung dengan Shalke 04, klub asal Jerman.

3. Juan Sebastian Veron

Manchester United berharap besar terhadap playmaker asal Argentina ini saat direkrut dari Lazio, klub asal Italia, dengan harga 28,1 juta poundsterling pada 2001. Tapi sungguh tragis, bintang pemain berkepala plontos ini langsung redup dan dijual ke Chelsea, dua tahun kemudian. Baru setahun di klub biru-biru, Veron dipinjamkan ke Inter Milan, kemudian ke Estudiantes.

4. Robinho

Robson de Souza, nama lengkap Robinho, menjadi bintang saat masih bergabung dengan Real Madrid, klub yang membelinya dari Santos, Brasil pada 2005. Sepanjang berlaga untuk Los Blancos, dia menjadi pencetak gol terbanyak untuk klub tersebut. Manchester City pun harus bayar 32,5 juta poundsterling untuk membawanya ke Inggris. Namun karirnya meredup, sampai akhirnya dijual rugi ke AC Milan dengan harga 15 juta poundsterling.

5. Diego Forlan

Pemain asal Uruguay ini mampu mencetak 37 gol saat bergabung dengan Independiente (1997-2001). Namun saat dibeli Manchester United, karirnya malah tidak bersinar. Tiga tahun (2001-2004) bergabung dengan Setan Merah, dia hanya mampu melesakkan 10 gol, setelah ditransfer seharga 6,9 juta poundsterling. Sir Alex Ferguson pun menjualnya ke Villarreal dengan harga murah, yaitu 2 juta poundsterling pada 2004. Ironisnya, kecemerlangannya muncul lagi, sampai Atletico Madrid bersedia membayar 21 juta euro untuk memboyongnya pada 2007.

6. Claudio Pizarro

Kemampuan mencetak gol dan kehebatan sundulan pemain asal Peru yang berlaga untuk Bayern Muenchen (2001-2007) ini harus mengakhiri kontraknya tanpa harga. Pizarro bertikai lantaran minta kenaikan gaji, namun ditolak oleh manajemen Muenchen. Akhirnya Chlesea menampung, tapi karirnya langsung redup. Sepanjang 2007-2009, dia hanya turun 21 kali dengan 2 gol.

7. Kleberson

Kleberson merupakan pemain tengah cemerlang saat bersama Atlético Paranaense di usianya yang 20 tahun. Tak aneh jika Luiz Felipe Scolari, pelatih Brasil, mengajaknya bergabung ke tim nasional untuk Piala Dunia 2002. Sepanjang kompetisi, penampilannya mengesankan Sir Alex Ferguson yang kemudian merekrutnya dengan harga 6,5 juta poundsterling untuk Manchester United. Dua musim di liga Inggris, 2003-2005, Kleberson hanya 20 kali dimainkan sebelum akhirnya dijual ke Besiktas, klub asal Turki dengan harga 2,95 juta euro.

8. Alfonso Pérez

Pemain kelahiran Getafe, Spanyol ini mengawali karir profesionanya di Real Madrid, yang kemudian direkrut oleh Real Betis. Sepanjang karirnya di klub tersebut, 1995-2000, dia mampu menciptakan 57 gol dari 152 pertandingan. Karirnya justru meredup saat di Barcelona, 2000-2002, yang hanya 20 kali menurunkannya dan melesakkan dua gol.

9. Andriy Shevchenko

Penyerang kelahiran Ukraina ini merupakan bintang kesayangan fans AC Milan. Sepanjang bermain untuk klub tersebut, penyerang yang dibeli dari Dynamo Kiev seharga 25 juta euro itu mampu menciptakan 127 gol dari 208 penampilannya. Permainan cemerlangnya membuat Chelsea berani membayar 75,2 juta euro pada 2005 untuk merekrutnya. Tapi pelan-pelan karirnya meredup. Selama tiga musim bergabung, Sheva hanya bermain 46 kali, sebelum akhirnya dipinjamkan ke Milan dan dijual ke klub asalnya, Dynamo Kiev.

10. Mauro Boselli

Pemain asal Argentina ini direkrut oleh Wigan Athletic pada 2010 dari Estudiantes dengan harga 6,5 juta poundsterling. Sayangnya, Liga Inggris seperti menjadi kuburan bagi Boselli yang disebut sebagai pemain asing terburuk di Wigan oleh penggemar klub itu. Baru delapan kali diturunkan, gelandang tengah ini dipinjamkan ke Genoa (Italia), dan kini di usianya yang 27 tahun, bermain untuk klub lamanya Estudiantes dengan status pinjaman.

10 Penulis yang Menarik Diri Dari Perhatian Publik

Para penulis dunia menggunakan kehebatan mereka untuk mengilustrasikan dan mengomentari berbagai kondisi yang dialami oleh masyarakat di sekitarnya. Dan tentu saja, ada hal-hal yang harus dipertimbangkan dan dipahami mengenai perasaan subyektif seorang manusia, karenanya  ada beberapa penulis yang menarik diri dari pergaulan dan perhatian publik. Reklusif, adalah kesukaan untuk menyendiri, enggan keluar dari tempat tinggal untuk bertemu dan berbicara dengan orang lain. Namun stereotip mengenai seorang penulis yang reklusif tidak selamanya berlaku, bagi beberapa penulis hebat reklusif, kesunyian hidup lebih memiliki daya tarik daripada menulis untuk mendapatkan penghargaan dan popularitas. Berikut 10 penulis reklusif hebat yang tercatat dalam sejarah sastra dunia:

1. Marcel Proust

Marcel Froust, adalah sosok pria yang dikenal baik di dalam lingkungan masyarakat Prancis di awal hidupnya, namun di pertangahan tahun 30’an sebuah tragedi mengejutkan kehidupannya. Ayahnya meninggal pada tahun 1903, berselang kemudian sang ibu pada tahun 1905, semenjak itu Froust mulai mengalami banyak gangguan kesehatan. Antara tahun 1909 dan sampai kematiannya di tahun 1922, ia menjadi seorang penulis yang reklusif, dan mengerjakan novelnya yang terkenal, Remembrance of Things Past, semenjak itu jarang sekali ia terlihat keluar dari rumahnya. Dalam tiga tahun terakhir di masa hidupnya, ia hampir menghabiskan semua waktunya berada di ruangan gelap dan kedap suara, untuk tidur dan menuliskan mahakarya terakhirnya.

2. Emily Dickinson

Emily Dickinson setidaknya telah menerbitkan kurang dari selusin dari 1.800 puisi yang ditulis semasa hidupnya. Ia pun dikenal sebagai penyair penyendiri, enggan bergaul, sehingga terkadang membuat hidupnya lebih sulit. Ia bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya di luar rumah keluarganya hampir selama 20 tahun hidupnya, ia pun tidak menghadiri pemakaman sang ayah, dan ia hanya mendengarkan jalannya ritual dari jendela kamarnya. Baru setelah kematiannya di tahun 1886, karyanya yang hebat ditemukan. Melalui untaian kata dan kekuatan emosi menggebu-gebu di dalam bait-bait puisi, menggambarkan perasaan yang dimilikinya saat itu—dari puisinya tersebut tergambarkan bagaimana ia menjadi seorang yang reklusif.

3. Thomas Pynchon

Thomas Pynchon adalah seorang penulis yang paling reklusif di antara penulis reklusif lainnya, ia bahkan hampir saja tidak dikenali. Setelah menerbitkan karya novelnya yang pertama, “V’ tahun 1963, Pychon menyembunyikan dirinya dari kejaran pers dan publikasi. Bahkan hanya sedikit foto diri yang dimilikinya, dan ia menolak untuk menghadiri berbagai undangan acara—ia pun mengirimkan seorang wakil untuk mendatangi dan mengambil penghargaan yang diterimanya melalui novel kompleks, Gravity’s Rainbow, daripada harus beranjak dari kesendiriannya. Akibat ulahnya banyak orang yang meragukan identitas Pychon—bahkan ada yang menyebutkan bahwa ia adalah J.D Salinger, bahkan ia pun tidak mau tampil di depan sebuah kamera CNN yang sedang memfilmkan dirinya di Kota New York, tahun 1997. Namun demikian pada tahun 2004 Pcyhon tampil ke permukaan atas permintaan publik—ia pun mengisi suara karakternya sendiri, di dalam serial kartun The Simpsons. Dalam serial kartun yang mendunia tersebut, wajahnya pun terlihat tidak begitu jelas,–karakter film khas kartun.

4. J. D. Salinger

Kita kesampingkan ketenarannya sebagai penulis popular di abad 21, karena sebenarnya J.D. Salinger hanya menerbitkan sebanyak 13 cerita pendek dan sebuah novel saja–dan semuanya dibuat sebelum tahun 1959. Tentu saja, salah satu novelnya yang terkenal, The Catcher in the Rye, menjelaskan semua tentangnya. Semua yang berhubungan dan membutuhkan untuk menampilkan dirinya di hadapan publik ditolaknya, termasuk wawancara mengenai novelnya. Sejak tahun 1980 Salinger menolak untuk diwawancara hingga akhir hayatnya di tahun 2010. namun ironisnya, secara mengejutkan ulah reklusif Salinger malah membukakan siapa sebenarnya dirinya kepada publik, setelah ditemukan beberapa surat pribadinya. Yakni  surat-surat pribadi, yang berusaha ia sembunyikan dari upaya penulisan biografinya oleh orang lain di tahun 1986.

5. Harper Lee

Harper Lee adalah seorang penulis dengan karya popularnya, To Kill a Mocking Bird yang diterbitkan pada tahun 1960. Novelnya tersebut mengajarkan kepada publik pembaca bahwa seorang reklusif seperti Boo Radley tidak perlu ditakuti. Mengikuti langkah hidup karakter yang dibuatnya di dalam novel, Harper Lee secara sopan menolak untuk diwawancarai sejak tahun 1960’an dan hanya menghadiri sejumlah acara penting aja. Saat ini, ia sepertinya berusaha untuk senantiasa tampil bergaul dengan kalangannya—selama ia tidak harus banyak berbicara. Ketika menghadiri perhelatan Alabama Academy of Honor tahun 2007, ia mengatakan,”lebih baik diam daripada terlihat bodoh.”

6. Bill Watterson
Seorang legenda yang menciptakan Calvin & Hobbes, Bill Waterson secara tiba-tiba menyatakan pensiun dari dunia sastra pada tahun 1995—saat itu ia merasa telah berhasil memenuhi keinginannya dalam membuat karakter dalam berbagai media literasi. Semenjak itu ia berusaha menghindari untuk tampil di depan publik dan memenuhi ajakan wawancara. Ia pun menolak berbagai pihak yang mencoba membuat merchandise sosok dirinya. Bahkan ketika melakukan sebuah penandatangan di sebuah toko buku lokal, ketika mengetahui buku-bukunya terjual habis ia menolak untuk membubuhkan namanya. Di berbagai kesempatan, beberapa wartawan mencoba menemuinya, namun tidak ada yang berhasil menemukannya. Watterson hanya melanggar kenyamanannya beberapa kali, seperti melakukan sebuah wawancara dengan  The Plain Dealer, itu pun dalam acara peringatan Hari jadi ke 15 Tahun perjalanan Calvin & Hobbes.

7. Don DeLillo

Dalam novelnya, Mao II, Don DeLillo, menuliskan:” Ketika seorang penulis tidak memperlihatkan wajahnya, ia akan menjadi sebuah tanda akan adanya Pendewaan sebuah popularitas.”  Rupanya itu adalah pendapat yang sebenarnya dipegang oleh Don DeLillo, melalui dialog seorang karakter yang diciptakannya. Novel kedelapannya, White noise yang terbit pada tahun 1985, mengantarnya meraih penghargaan Anugerah Buku Nasional dan sukses baik secara komersial maupun dalam mencuri perhatian para kritikus sastra. Namun pada tahun 1991, dengan dipublikasikannya novel Mao II, semuanya menjadi jelas bahwa ia memiliki kelainan sosial, ia terlihat menarik diri dari lingkungan masyarakat sekitarnya. Bahkan selama enam tahun ia menghilang dari publikasi dan pergaulan sosial. Pada tahun 1997 barulah ia muncul bersamaan dengan penerbitan mahakaryanya, Underworld, setelah itu ia kembali menarik diri dari pergaulan sosial dan berbagai publikasi lainnya, untuk menuliskan karya-karya lainnya.

8. Cormac McCarthy

Peraih penghargaan bergengsi, Pulitzer, Cormac McCarthy menerima berbagai kritikan dan disebut-sebut salah satu penulis hebat dunia. Bahkan namanya semakin popular ketika karya tulisnya diadaptasikan, No Country For Old Men.  Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa ia adalah seorang yang suka menyendiri dan menutupi dirinya di keramaian manusia, maka banyak yang tidak akan mengenali sosok Cormack ketika berada di keramaian publik. Selama bertahun-tahun ia menolak untuk melakukan sebuah wawancara dan bahkan menghindari undangan makan malam yang sengaja diadakan untuk menghormatinya. Namun beberapa penampilannya di depan publik terpaksa ia lakukan, seperti pada acara Academy Award, film yang merupakan sebuah adaptasi dari novel No Country For Old Men, meraih penghargaan dalam kategori Best Picture. Di selang waktu tersebut pun, ia menghadiri undangan interview dalam acara televisi yang dipandu oleh Oprah—wawancara televisi pertamanya. Setelah dua penampilannya di depan publik, ia pun menarik diri kembali, ke dalam kesunyian yang dikehendakinya.

9. J. M. Coetzee

John Maxwell Coetzee adalah salah satu dari sekian penulis yang meraih beberapa kategori penghargaan, ia pun seorang dari penulis yang suka menyendiri, menghindari kontak apapun dengan orang-orang disekitarnya. Bahkan ketika dirinya berada di dalam sebuah acara jamuan makan malam, ia bahkan tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak kedatangannya. Bagaimana pun juga John,  ia bukanlah pembenci manusia, ketidaksukaanya dalam lingkungan pergaulan baginya adalah cara untuk menghasilkan karya terbaik, yang nantinya memberikan kesempatan baginya untuk berbagi dengan masyarakat luas lainnya. Salah satunya ia melakukan kegiatan amal, menggalang dana untuk anak-anak di Benua Afrika yang menjadi yatim piatu, setelah orang tuanya mati akibat HIV/AIDS.

10. Denis Johnson

Kumpulan cerita pendek karya Denis Johnson, Jesus’ Son yang terbit pada tahun 1992, mendapatkan berbagai kritikan dan menarik perhatian publik sastra. Namun tahukah Anda jika, Jonhson menghabiskan waktu sebanyak dua dekade (20 tahun) untuk mengerjakan novelnya? Ya, dan karyanya adalah, Tree of Smoke, yang memenangkan Anugerah Buku Nasional, di Amerika Serikat. Dan saat itu ia hanya melakukan sebuah wawancara dan membacakan novelnya, selebihnya ia menolak untuk berbagai acara ataupun konferensi pers untuk membahas novelnya. John menghabiskan hidupnya di pinggiran Negara Bagian Arizona dan Idaho, di sanalah ia mendidik ketiga anaknya, homeschooling. Namun metode homeschoolingnya tersebut dipublikasikan di internet pada tahun 1997, sehingga demikian, menghancurkan tembok isolator yang membatasi dirinya dengan publik

10 Kesalahpahaman Orang Terhadap Kaum Gypsy

Gypsy, merupakan nama suatu kaum yang juga dikenal dengan nama Romani. Mungkin Anda mengenalnya dari tampilan sebuah film-film barat yang banyak menyebarkan persepsi stereotipe (pandangan subyektif) terhadap mereka (gypsy). Di beberapa film barat anak-anak gypsy digambarkan sebagai anak naka, aneh, kemudian pemudanya dianggap penggoda perempuan dan pencuri, sementara perempuanya hanyalah berprofesi sebagai cenayang ataupun tukang ramal. Nah inilah 10 kesalahpahaman orang terhadap kaum gypsy atau Romani:

1. Mengenalkan Budaya Kebebasan

Romantisasi potret kehidupan kaum gypsy yang terlihat bebas, memisahkan diri dari tatanan norma dan nilai masyarakat sekitar. Mereka hidup berpindah-pindah dengan menggunakan kereta dan melakukan apapun yang mereka inginkan. Namun hal tersebut tidak semuanya benar, pada kenyataannya di benua Eropa para gypsy seringkali dipaksa untuk tinggal di luar kota atau bahkan di daerah kumuh sekalipun. Mereka pun dipersulit untuk mendapatkan kependudukan dan hak seperti warga masyarakat lainnnya. Padahal seandainya mereka diberikan hak dan kewajiban yang sama, mereka akan baik-baik saja.

2. Tidak Berpendidikan

Di berbagai tempat yang dipadati oleh populasi Romani (gypsy), seperti Cheska (Rep.Ceko), mereka mendapatkan diskriminasi di dalam bidang pendidikan. Bahkan sebanyak 65-75% anak – anak para Romani harus mendapatkan pedidikan di ‘sekolah khusus’ sebelum beranjak remaja, walaupun sebenarnya tidak ada peratura yang membenarkan adanya diskriminasi secara genetis.

3. Mereka Dapat Meramal

Walaupun ada benarnya bahwa beberapa perempuan gypsy mendapatkan uang dari pekerjaan mereka sebagai seorang peramal. Namun tidak semua perempuan dan lelaki hanya mampu bekerja dengan cara demikian, tidak di era milenia saat ini. Dari mereka bahkan sukses dalam berbagai bidang, salah satunya di bidang jurnalisme.

4. Gaya Berpakaian yang Buruk

Kebanyakan orang berpikir kaum gypsy merayakan halloween di sepanjag tahun, hal ini disebabkan karena gaya berpakaian mereka. Aksesoris mereka yang mencolok seperti kalung rantai emas, gigi emas dan celana baggy, semua mereka gunakan sehingga terlihat bertabrakan (mismatch). Namun demikian gaya pakaian mereka menginspirasi orang-orang di sekitarnya, bahkan ketika beberapa dari mereka sudah berbusana lebih modern dan dinamis mengikuti tren. Gypsy di Amerika sudah tidak berpakaian konvesional lagi, sebagaimana para pendahulunya.

5. Menikah Muda

Bagi kaum Romani (gypsy), keluarga adalah nomor satu. Namun satu hal yang paling banyak disalahpahami adalah pernikahan mereka, ada anggapan bahwa kaum gypsy banyak melakukan pernikahan di usia muda. Sebenarnya, walaupun pernikahan mereka diatur oleh masing-masing keluarga (dijodohkan), tetapi pernikahan tersebut dilakukan setelah mereka dewasa –tradisi tersebut terdapat pada kaum gypsy yang tinggal di Amerika Utara, namun lebih umum lagi terdapat di dalam kebudayaan Indian dan beberapa subkontinen lainnya. Selain itu, ‘promiscous’ (hubungan sedarah) tidaklah benar, mereka tidak menikah sesama anggota keluarga dekat mereka. Bahkan para kaum lelaki dan perempuannya tidak diperbolehkan untuk memperlihatkan kakinya di depan umum.

6. Berasal Dari Mesir

Ada sebuah keyakina umum bahwa kaum gypsy berasal dari daratan Mesir, namun itu salah karena sebenarnya mereka berasal dari daratan India sebelah utara. Di awali pada abad ke – 11, mereka menyebut dirinya ‘Rom’, sebuah kata yang berarti mausia dalam bahasa. Selain makna kata, rom juga menandakan bahwa mereka berasal dari daratan Romani. Diyakini bahwa awal perjalanan mereka bertujuan untuk menetap di daratan Persia, namun entah mengapa mereka menjadi tersebar dan menetap di daratan Eropa.

7. Pengangguran

Dari sejak zaman nenek moyang mereka para gypsy terkenal sebagai kaum pekerja keras, mulai dari profesi musisi, seniman, penjual-peternak kuda hingga pandai besi. Namun hanya karena hidup mereka berpindah-pindah (nomaden), mereka dianggap tidak memiliki pekerjaan dan keahlian selain sebagai musisi, seniman dan peramal. Anggapan tersebut tidaklah benar, dan hal tersebut tidak saja terjadi di dalam literasi dan sejarah masa lalu bahkan masa kini pun anggapan tersebut masih menjadi stereotipe (pandangan umun yang subyektif). Padahal kaum Romani memiliki dan menduduki jabatan yang penting di dalam karir mereka.

8. Gypsy Adalah Gaya Hidup

Banyak orang yang mengungkapkan bahwa gypsy merupakan gaya hidup, dan jarang sekali yang menganggap mereka sebagai etnis.  Masalah ini dijelaskan di dalam beberapa legislasi seperti di tahun 1968 dengan dikeluarkannya Caravan Act di Inggris, yang mengklasifikasikan bahwa semua kaum nomadis adalah gyspy. Undang-ung tersebut tidak sebenarya memenuhi batasan dan penjelasan mengenai gypsy. Padahal seandainya jika dirunutkan secara genetik dan ras, maka India adalah tanah nenek moyang mereka berasal, sebuah daratan ketika untuk pertama kali mereka menyebut dirinya kaum Romani.

9. Penipu

Kaum Gypsy banyak mendapatkan diskriminasi dimana pun mereka tinggal, mereka dianggap kaum yang sedang mencari tempat tinggal sebagai sebuah kutukan.hukuman yang telah berlaku untuk ratusan tahun.
Mengenai diskriminasi hukum ini pernah terjadi sebuah kasus di tahun 1980’an di New Jersey, Amerika Serikat. Saat itu pemerintah kota menuntut kepada para peramal Gypsy untuk membayar uang tambahan untuk surat izin dan berpraktik, di beberapa pemerintahan lain bahkan seorang Gypsy yang terjerat masalah hukum maka secara otomatis seluruh keluarganya pun terjerat. Walaupu hukum dan perundangan yang mendiskreditkan para Gypsy sudah tidak dicabut, namun stereotipe masih saja berlangsung.

10. Gypsy pun Tidak Ada di Benua Amerika

Poin terakhir ini memang sangat sederhana, para pembuat film di Eropa maupun Hollywood selau menyertakan kehadiran Gypsy dengan latar sosial-budaya negara-negara Eropa daripada benua Amerikanya sendiri. Hal tersebut semakin membuat publik semakin yakin bahwa tujuan dan pola penyebaran kehidupan mereka hanya ada di benua Eropa saja. Padahal pada kenyataannya, banyak keluarga Gypsy yang tinggal di kota besar seperti di New York dan masih melakukan tradisi nenek moyang di dalam kehidupan mereka

10 Tokoh Wanita Inspiratif Asal Jawa Barat

Sepak terjang beberapa tokoh wanita dibawah ini, memberikan warna tersendiri dalam alur sejarah Indonesia. Berbagai peran, coba mereka “pentaskan” berdasarkan profesinalismenya di berbagai bidang yang mereka geluti. Dalam kapasitas itulah, mereka layak disebut sebagai tokoh wanita yang menginspirasi asal Jawa Barat. Simak profil mereka berikut:

1. Dewi Sartika

Dewi Sartika adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu
Usai berkonsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara, pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya tiga orang; Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang, menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung.
Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.
Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi “Sakola Raden Déwi”. Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda. Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.

2. Inggit Garnasih 

Mungkin banyak yang asing dengan nama wanita yang satu ini. Perempuan asal Bandung ini merupakan istri kedua Soekarno. Beliau yang mendampingi Soekarno pada masa perjuangan di era pergerakan nasional. Mulai sejak menjadi mahasiswa di Bandung, aktif dalam perkumpulan mahasiswa dan PNI, hingga masa pembuangan di Ende dan Bengkulu. Kini, nama wanita asal Bandung itu diabadikan jadi salah satu jalan Kota Bandung. Tepatnya di kawasan Ciateul, sebab di sinilah rumah Bung Karno dan Inggit berada.
Ibu Inggit adalah penerima Piagam Penghargaan Satya Lancana Perintis Kemerdekaan yang diberikan oleh Soekarno pada 1961. Juga penerima Bintang Maha Putera Utama yang diberikan pada masa pemerintahan Soeharto di tahun 1997 dan diterima oleh anaknya, Ratna Juami.

3. Radén Ayu Lasminingrat 

Lasminingrat atau Radén Ayu Lasminingrat, adalah pahlawan pelopor kemajuan wanita Sunda, dan pendiri Sakola Kautamaan Istri. Pada tahun 1875 ia menerbitkan buku Carita Erman yang merupakan terjemahan dari buku karya Christoph von Schmid. Buku ini dicetak sebanyak 6.015 eksemplar dengan menggunakan aksara Jawa, lalu mengalami cetak ulang pada 1911 dalam aksara Jawa dan 1922 dalam aksara Latin.

4. Armida Salsiah Alisjahbana

Prof. Dr. Armida Salsiah Alisjahbana, S.E., M.A., terlahir Armida Salsiah Kusumaatmaja, adalah Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasionalpada Kabinet Indonesia Bersatu II. Ia juga adalah Guru Besar dan Pembantu Dekan bidang Akademik Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (UNPAD).
Armida pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan (sekarang Ilmu Ekonomi) FE-UNPAD dan Ketua Laboratorium Penelitian, Pengabdian Pada Masyarakat dan Pengkajian Ekonomi (LP3E) FE UNPAD. Ia adalah lulusan FE Universitas Indonesia dan meraih gelarMaster of Arts in Economics dari Universitas Northwestern, Amerika Serikat, serta Doctor of Philosophy in Economics dari Universitas Washington,Amerika Serikat. Ia juga menulis berbagai riset yang terkait dengan desentralisasi fiskal. Armida sering berkiprah sebagai konsultan untuk Bank Dunia dan Australian Agency for International Development (AusAID). Armida saat ini bertugas sebagai menteri pada Kabinet Indonesia Bersatu II, sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas.
Armida adalah putri kedua dari pasangan Prof. (Em.) Dr. Mochtar Kusumaatmadja S.H. (Sunda) dan Siti Hadidjah (Minangkabau). Armida menikah dengan Andi Alisjahbana, saat ini adalah Direktur Teknologi & Pengembangan PT. Dirgantara Indonesia. Mereka dikaruniai dua orang anak, Arlisa Alisjahbana dan Ariana Alisjahbana. Armida adalah menantu dari alm. Prof. Dr-Ing. Iskandar Alisjahbana.

5. Rieke Diah Pitaloka

Rieke demikian biasa disapa, adalah seorang penulis buku, pembawa acara, pemain sinetron Indonesia, dan anggota DPR periode 2009-2014 dari PDI-P. Setelah menyelesaikan pendidikan S-1 di Fakultas Sastra Belanda Universitas Indonesiadan S-1 Filsafat STF Driyakara, Jakarta, Rieke pun meneruskan pendidikannya. Meski sibuk dengan segala kegiatan ‘keartisan’, Rieke berhasil menyelesaikan pendidikan S-2nya di jurusan Filsafat Universitas Indonesia (UI). Bahkan tesisnya yang berjudul Banalitas Kejahatan: Aku yang tak Mengenal Diriku, Telaah Hannah Arendt Perihal Kekerasan Negara dijadikan buku dengan judul Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat diterbitkan oleh Galang Press.

Rieke aktif dalam kegiatan politik, bahkan pernah menduduki jabatan wakil sekretaris jendral DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pimpinan Muhaimin Iskandar. Rieke kemudian mengundurkan diri dari partai berbasis massa Islam tersebut untuk bergabung ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pimpinan Megawati Soekarnoputri.
Rieke adalah anggota DPR periode 2009-2014 dari PDI-P untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat II. Di Dewan Perwakilan Rakyat, Rieke merupakan salah satu anggota dari Komisi IX. Bidang yang sangat Ia perhatikan adalah bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia merupakan salah satu anggota Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Rieke Dyah Pitaloka juga mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama “Yayasan Pitaloka” yang bergerak di bidang sastra dan sosial kemasyarakatan. Dewasa ini, Rieke dijagokan oleh partai tempatnya bernaung sebagai Calon Gubernur Jawa Barat 2013.

6. Susi Susanti 

Lucia Francisca Susi Susanti adalah seorang pemain bulu tangkis Indonesia. Susi menikah dengan Alan Budikusuma, yang meraih medali emas bersamanya di Olimpiade Barcelona 1992. Selain itu, ia pernah juga meraih medali perunggu di Olimpiade Atlanta 1996. Pasangan Alan dan Susi memiliki 3 orang anak yang bernama Laurencia Averina (1999), Albertus Edward (2000), dan Sebastianus Frederick (2003).
International Badminton Federation (sekarang Badminton World Federation) pada bulan Mei 2004 memberikan penghargaan Hall Of Fame kepada Susi Susanti. Pemain Indonesia lainnya yang memperoleh penghargaan Hall Of Fame yaitu Rudy Hartono Kurniawan, Dick Sudirman, Christian Hadinata, danLiem Swie King.

7. Cissy Rachiana Sudjana Prawira

Prof. Dr. dr. Cissy Rachiana Sudjana Prawira-Kartasasmita, Sp.A. (K), M.Sc.  adalah seorang dokter dan perempuan pertama yang menjabat sebagai direktur Rumah Sakit Hasan Sadikin di Kota Bandung, Jawa Barat. Pada 1973 Cissy lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Ia melanjutkan studinya dengan mengambil spesialisasi Anak dan lulus pada 1983. Sepuluh tahun kemudian ia memperoleh gelar doktor dari Universitas Katolik Leuven, Belgia, setelah sebelumnya ia memperoleh gelar magister dari sekolah yang sama.
Selain menjabat sebagai direktur utama RS Hasan Sadikin, Cissy tetap aktif dalam mengajar di Fak. Kedokteran Unpad, Fak. Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani, di Program Studi Keperawatan dan Program Magister Manajemen Unpad, serta Program Pendidikan Dokter Spesialis. Ia juga masih aktif dalam berbagai kegiatan penelitian bersama rekan-rekannya di Unit Penelitian Kedokteran. Pada 10 Januari 2004, Cissy dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Kesehatan Anak di Universitas Padjadjaran.

8. Meutya Hafid 

Meutya Viada Hafid adalah seorang wartawan Metro TV. Di Metro TV, Meutya membawakanberita serta menjadi presenter di beberapa acara. Pada 18 Februari 2005, Meutya dan rekannya juru kamera Budiyanto diculik dan disandera oleh sekelompok pria bersenjata ketika sedang bertugas di Irak. Kontak terakhir Metro TV dengan Meutya adalah pada 15 Februari, tiga hari sebelumnya.
Pada tanggal 28 September 2007, Meutya melaunching buku yang ia tulis sendiri, yaitu 168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun turut menyumbangkan tulisan untuk bagian pengantar dari buku ini. Selain presiden, beberapa tokoh lainnya pun menyumbangkan tulisannya yakni Don Bosco Selamun dan Marty Natalegawa. Pada bulan Agustus 2010, ia dilantik menjadi Anggota DPR antar waktu dari Partai Golkar menggantikan Burhanudin Napitupulu yang meninggal dunia.

9. Dira Sugandi

Dira Sugandi merupakan seorang penyanyi berkebangsaan Indonesia. Dilahirkan dengan nama Dira Julianti Sugandi, talenta bermusiknya sudah didapatkannya sejak kecil. Pada umur 9 tahun, Dira memenangkan peringkat kedua dalam kompetisi menyanyi anak-anak. Untuk memuluskan karier bermusiknya, lulus dari SMA, dia mengikuti les vokal di Elfa Music Studio. Dan dia memulai kariernya sebagai penyanyi sambil kuliah di Jurusan Musik Pelita Harapan.
Dira sudah memiliki pengalaman tampil bersama banyak musisi dan kelompok musik seperti Soulmate, Maestro Big Band, Rika Roeslan, Sova, Imam Praz Quartet, bahkan dengan Incognito saat mereka datang ke Bandung, Surabaya, Makassar, Medan, Bali, Singapura, dan Jakarta. Dira juga pernah manggung bersama Keith Martin saat dia datang ke Bandung pada 2005 lalu. Sekarang, Dira yang pernah berduet bersama Jason Mraz dalam JJF 2009 ini sedang mempersiapkan album solo perdananya yang bekerja sama dengan Bluey dari Incognito sebagai produsernya.

10. Nia Dinata 

Nia Iskandar Dinata adalah seorang sutradara dari Indonesia. Awal karier sutradara wanita ini berangkat dari pembuat klip video dan film iklan. Pada awal tahun 2000, Nia mendirikan perusahaan film independen Kalyana Shira Film. Ia lalu menjadi sutradara film Ca Bau Kan (2002) yang diangkat dari novel dengan judul sama karya novelis Remy Sylado. Setting cerita terjadi pada tahun 1930-an, menceritakan kisah tokoh pejuang berkebangsaan Tionghoa. Film ini mendapat berbagai penghargaan dari berbagai festival internasional.
Pada tahun 2004, dia menyutradarai film Arisan! sangat sukses dari penjualannya yang bagus dan komentar kritikus. Film ini mendapat banyak penghargaan, termasuk dari Festival Film Indonesia dan MTV Movie Awards. Karya berikutnya yang juga mendapat pujian dari kritik film adalah Berbagi Suami, film yang membahas mengenai poligami dalam tiga segmen serta melibatkan banyak pemain film/teater kawakan, seperti Ria Irawan, Jajang C. Noer, dan Tio Pakusadewo.

10 Musisi dan Band yang Menyuarakan Protes

Beragam cara dilakukan manusia untuk menyampaikan ketidaksukaan, ketidaksetujuan, dan penolakan atas sikap yang dilakukan oleh manusia lainnya. Melakukan demonstrasi di jalanan, melakukan tindakan seni grafiti, mural, dan bahkan menjahit mulut ataupun kekerasan diri secara fisik. Namun satu cara yang tidak pernah luput adalah melalui musik dan liriknya yang ‘pedas’, secara luas hal demikian dilakukan oleh 10 musisi dan band berikut:

1. Phil Ochs

Penyanyi Texas yang doyan berkeliling ke berbagai daerah ini, merupakan salah satu figur musisi yang menyaingi Dylan dalam melakukan protes melalui sebuah lagu. Suara perak yang dimilikinya sangatlah tulus, hingga suatu masa sulit harus ia alami, kerusakan pada pita suara cukup mengganggunya untuk bernyanyi dan mungkin itu juga yang menyebabkan ia memutuskan untuk bunuh diri pada tahun 1976. Krisis misil Kuba, Perang Vietnam, Pergerakan Hak Asasi, kebijakan tentang senjata api, kemiskinan…adalah isu-isu yang Och angkat dalam setiap lagunya, bahkan ia menuliskannya dengan tegas sebuah pernyataan seperti,”I Ain’t Marching Anymore” serta sebuah pernyataan sinis “Outside of a small circle of friends.” Ia adalah seorang yang hebat, dan lagu-lagunya sangat cocok bagi orang yang tertarik terhadap gejolak sosial, lagu-lagu yang tak lekang oleh zaman.

2. Public Enemy

Album yang berjudul “It Takes a Nations of Millions to Hold Us Back,” mengungkapkan semuanya. Di penghujung tahun era 80’an dan awal 90’an, Public Enemy merupakan suara yang  mewakili kaum kulit hitam di Amerika Serikat, yang disampaikan melalui sebuah konsep musik dan lirik. Mereka dengan terbuka membicarakan ketimpangan kekuasaan dan birokrasi, seperti dalam lagu “Don’t Believe the Hype,” “She Watch Channel Zero,” “911 Is a Joke,” “Fight the Power,” dan “Fear of a Black Planet”. Cerdas, jelas dan memiliki irama serta nada yang menghentak, P.E (Public Enemy) adalah sebuah perlawanan terhadap arus trend yang terdapat dalam tema musik hip hop. Berbeda dengan penyanyi dan kelompok lainnya, P.E menjadikan musik hip hop adalah sebuah kebebasan berbicara dan menumpahkan ide-ide brilian yang menyayat kaum penguasa.

3. MC5

Lagu “Kick out the jams motherf—ers” mungkin tidak terlihat sebagai sebuah protes, namun lirik berbalut semangat rock n’r roll ini berisi sebuah serangan terhadap perkembangan industri hiburan yang ada di Kota Detroit di penghujung tahun 1960’an. MC5 mencoba memperluas pengaruh dan menghujam  pandangan industri dan elemen musik lain dengan caranya. Mereka memainkan musik secara acak dan eksperimental, demikian pula dengan penampilannya, berimprovisasi dengan ‘gitar kembar’ dengan volume sesuai intuisi mereka. Radikalisme  yang mereka miliki didukung oleh sang manajer John Sinclair, bahkan mereka memperluas struktur musik lagu John Lee Hooker sebagai cover version, “Motor City is Burning.” Gaya mereka banyak memengaruhi musik generasi berikutnya seperti Sonic Youth dan lain lain.

4. U2

Selama berada dipermukaan publik musik, mungkin band asal Irlandia U2 sepertinya berusaha mendominasi dunia musik pop dengan kreatifitas mereka, dan tidak banyak yang mengetahui sepak terjang mereka dalam pergerakan lainnya, yakni berusaha menciptakan kedamaian dan kesejahteraan di bumi. Lagu seperti “Get on Your Boots,” yang berisikan tentang perang, serta “No Line on the Horizon,”  yang berisikan sebuah pandangan mengenai tidak adanya batas yang menghalangi pergerakan manusia di manapun. Demikian pula dengan beberapa lagu klasik mereka seperti “New Year’s Day,” “Pride (In the Name of Love)” dan “Second”  beberapa dekade lalu.

5. Rage Against the Machine

Mereka lahir di era kejayaan musik alternatif rock, band asal Kota Los Angeles, Amerika Serikat, Rage Against the Machine, menghentak publik musik dengan lagu “Killing in The Name of..”, “Bullet in the Head,” dan “Bulls on Parade,” yang berasal dari sebuah pemikiran dan pandangan mereka terhadap rasisme yang masih berlangsung. Band yang beranggotakan anak muda kreatif yang dimotori oleh Tom Morello, ia menjadikan permainan sound dan teknik gitarnya sebagai karakter khas RATM dari tahun 1991 hingga 2000. Band ini sempat vakum, karena sang gitaris dan vokalis, Tom dan Zack lebih terlibat dalam sebuah pergerakan sosial-politik,  mereka berjalan melawan dan menentang kebijakan terutama yang berbau oligarki serta kapitalisme.

6. Bob Dylan

Dylan adalah salah satu perintis gerakan protes melalui musik folk modern  di Amerika Serikat, bahkan ia bisa saja disebut sebagai raja dari musik folk tahun 1960’an. Dylan membangkitkan publik musik, semangat seorang pengembara yang menghubungkan masa lalu dan sekarang bahkan masa depan. Ia bahkan terang-terangan menyebutkan seseorang yang menginspirasinya dalam album debut, “Song to Woody,” pada tahun 1962. Woody Guthrie adalah seorang musisi folk, salah satu lagunya “This Land is Your Land” dan “Pastures of Plenty.” Dylan pun mengungkapkan pemikiran Woody dalam “Freewheelin’ Bob Dylan” tahun berikutnya. Walaupun Dylan seorang penentang, namun ia engga menyebutkan bahwa lagu; “Blowin’ in the Wind,” “Masters of War,” “A Hard Rain’s A-Gonna Fall,” dan “Oxford Town”, adalah sebuah perlawanan terhadap penguasa. Ada sebuah sumber yang mengklaim bahwa lagu “Hurricane,” yang dibuatnya pada tahun 1975 (masa ketika pergerakan anti Perang Vietnam dan Hak Asasi Manusia ramai dilakukan para aktivis) merupakan lagu tentang seorang petinju yang saat itu harus mendekam di penjara, Rubin Carter. Dylan melakukan hal-hal tersebut agar realitas yang terjadi dapat dipahami dengan baik.

7. John Lennon

Setelah pernikahannya dengan Yoko Ono, sama halnya seperti pasangan lain, mereka pun memutuskan untuk berbulan madu. Namun, hal yang spesial sekaligus orisinil adalah, dengan memanfaatkan popularitasnya John Lennon merubah bulan madunya menjadi kampanye perdamaian. John dan Yoko membuat gerakan yang dinamakan “Bed-In for Peace”, yang dimulai di sebuah Hilton Hotel di Amsterdam, Belanda. Mereka tidak beranjak dari tempat tidur selama 7 hari, dari tanggal 25 sampai 31 Maret 1969 untuk mengkampanyekan perdamaian. Gerakan ini sebagai protes terhadap tindakan kekerasan yang terus terjadi di dunia, terutama Perang Vietnam. John dan Yoko berpesan, “Daripada ikut perang lebih baik diam di tempat tidur dan panjangkan rambutmu, demi perdamaian.” Pesan ini menurut saya menyindir Amerika Serikat yang sempat mengerahkan para pemuda Amerika untuk turut serta dalam perang. Ketika dikritik oleh seorang wartawan dari The Daily Mirror, “Kalau kau bergerak itu baru berarti, kalau kau diam seperti ini itu tidak berarti. Kamu tak bisa mendapatkan kedamaian dengan bersantai di tempat tidur”, dengan taktis John menjawab, “Tidak ada yang pernah benar-benar memberikan kesempatan untuk perdamaian, (Mahatma) Gandhi pernah mencobanya, (Martin Luther) King juga, tapi keduanya tewas tertembak. Kami coba berbicara dengan kaum-kaum revolusionis yang beraggapan kedamaian bisa dicapai dengan meruntuhkan gedung. Menurutku itu yang tidak ada gunanya, dan menurut kami “Bed-In” ini cara terbaik untuk protes terhadap kekerasan dan mempopulerkan kedamaian.”

8. Bruce Springsteen

Seperti halnya Bob Dylan, Woody Guthrie, dan Joe Hill, Bruce adalah salah satu musisi rock yang juga menyuarakan protes dengan bakat luar biasa yang dimilikinya. Seperti lagu “Mary Queen of Arkansas” hingga “Promised Land,”, lalu “Highway Patrolman” hingga “The Last Carnival.” Lagu-lagu tersebut abadi dan dikenang oleh banyak publik musik di dunia. Beberapa lagu protesnya seperti “The Ghost of Tom Joad,” “sedds” dan tentu saja “Born in the U.S.A”—merupakan sebuah nasionalisme sekaligus percikan keyakinan dan ampunan bagi bangsa Amerika.

9.The Clash

Sebuah kelompok musik beraliran punkrock,ska, The Clash, yang juga menyuarakan potensial protes secara langsung di era 80’an. Lagu seperti “London Calling” yang ditujukan terhadap negara-negara Eropa pada umumnya, dan Inggris pada khususnya. Lagu tersebut menyuarakan tentang gejolak sosial yang terjadi di Eropa, rasisme, perang dingin, dan kekacauan ekonomi. Lalu ada juga lagu tentang peperangan seperti “Jihadist,” “Cold War” yang diramu dengan kocokan dan karakter suara gitar khas mereka. respon mereka terhadap kebijakan negara lain pun turut disuarakan dalam, “Washington Bullet,” lalu anti wajib militer dalam menghadapi peperangan, “The Call Up” dan “Career Opportunities.”

10. Dead Kennedys
File:Dead kennedys.jpg
Kelompok musik beraliran hardcore punk asal San Fransisco, Dead Kennedys, yang dimotori oleh Jello Biaffra (yang pintar sekaligus berlidah pedang), merupakan salah satu band punkrock Amerika yang pedas dan berani dalam menyuarakan protes di era 80’an. Lagu mereka seperti “Kill the Poor,”  “Holiday in Cambodia,” yang terdapat dalam debut album Fresh Fruit for Rotting Vegetables, produksi tahun 1980, membuktikan ketidaknyamanan mereka. Lalu single, “California Über Alles” yang merupakan ketidaksetujuan mereka terhadap pola kehidupan di California yang dianggap seperti pemikiran seorang Nazi, ditujukan kepada Gubernur California saat itu Jerry Brown. Satir, sindiran mereka terhadap Kota Las Vegas pun terdengar saat mereka menyanyikan sebuah lagu klasik “Viva Las Vegas.” Namun album dengan formasi  personal pendiri berakhir pada tahun 1985 setelah meluncurkan album “Bedtime for Democracy” yang merupakan plesetan dari judul film “Bedtime for Bonzo,” sebuah film yang dibintangi oleh Presiden Ronald Reagan.