Selasa, 12 Juni 2012

9 Ibu Pejuang dalam sejarah

Seorang terkenal yang terlahir di dunia ini, pastilah memiliki ibu. Beberepa memang disertai kelemahan dan kekurangannya. Walaupun begitu tanpa mereka dunia yang sekarang ini tidak akan ada. Siapa saja mereka ?

1. Olympias, Ibunda Alexander Agung
Alexander Agung merupakan salah satu pemimpin militer yang paling sukses sepanjang sejarah, mempunyai kekaisaran yang membentang dari Mediterranean ke pegunungan Himalaya. Sepertinya Alexander mewarisi keberanian dari sang ibu.
Ibunda Alexanddr, Olympias, merupakan istri ke-4 dari ayah Alexander. Olympias mempunyai reputasi yang cukup populer. Menurut Plurarch, Olympias pernah tinggal dengan ular untuk ritual pribadinya.
Ketika ayah Alexander menikah lagi dengan wanita Macedonia bernama Cleopatra, Olympias lebih memilih untuk mengasingkan diri, dan kembali ketika suaminya itu dibunuh. Banyak sejarahwan menganggap Olympias ada dibalik kasus ini. Tidak hanya itu, Olympias juga terlibat dalam pembunuhan Cleopatra dan bayinya, agar anak Olympias-lah yang naik tahta. Olympias juga dituduh terlibat dalam usaha meracuni anak dari Philip II dan Philip III yang walaupun selamat, hidup dalam cacat otak.
Walaupun begitu, sulit untuk mengatakan bahwa Olympias adalah seorang yang kejam. Menurut sejarahwan Brian Pavlac, wanita dahulu sering disalahkan apabila ada kejadian atau kasus sebagai kambing hitam.
Kejam atau tidaknya Olympias, politisasi Olympias bersama dengan pihak dari Macedonia begitu solid. Namun, ia dihianati dan mati pada tahun 316 sebelum masehi.


2. Cleopatra, Ratu Mesir

Wanita memainkan peranan penting ketika ia berkuasa. Kisah cintanya dengan Mark Antony begitu terkenal dan memungkinkan dia untuk mempunyai kekuasaan politik di Roma. Disamping itu, ia juga punya kekuasaan bebas di Kerajaan Mesir. Sebgai wanita, Cleopatra juga butuh keturunan pria agar dapat mempertahankan kekuasaan. Ia menemukan sosok tersebut dalam anaknya, Caesarion. Tahun 44 sebelum masehi, Cleopatra dikabarkan meracuni beberapa ahli waris agar Caesarion bisa naik tahta dan ini berhasil.
Cleopatra meninggal pada usia 39 tahun, setelah 22 tahun bertahta. Setelah kematiannya, Roma menduduki mesir. Caesarion kemudian dibunuh, tetapi 3 anak Cleopatra lainnya (dari Mark Antony) hidup terpisah. Adik perempuan Cleopatra, yaitu Cleopatra Selene, kemudian menjadi ratu dari daerah yang sekarang dikenal sebagai Aljazair.


3. Wu Zetian, Kaisar Wanita China

Wu Zetian dikenal mematahkan semua aturan. Sebagai wanita muda tahun 630, Wu menjadi dayang rendahan dari kaisar Taizong. Dan ketika kaisar mati, Wu seharusnya dikirim ke biara Buddah untuk menjadi pendeta wanita. Namun sebaliknya, ia justru menjadi permaisuri dari anak Taizong, Kaisar Gaozong.
Wu kemudian mulai merencanakan rencananya untuk meraih posisi kaisar wanita, dengan mempunyai dua anak dan menuduh istri dari Kaisar saat itu (yang tidak mempunyai anak) karena telah membunuh adiknya.
Karena kesehatan kaisar kemudian mulai memburuk, pengaruh Wu semakin kuat. Ia menjadi Janda terhormat (Dowager) dan ahli waris setelah sang kaisar menginggal.Pada tahun 690, ia melakukan gebrakan lagi, dengan menyatakan dirinya sebagai kaisar dan satu-satunya wanita yang berkuasa memerintah China.
Wu kemudian berkuasa sampai usianya 82 tahun lalu sakit dan akhirnya melepaskan mahkotanya pada anak ketiganya.


4. Catherine de Medici, ibu dari 3 raja

Ibunda dari 3 raja Prancis, Catherine de Medici, tidaklah mudah pada awal perjuangannya. 10 tahun setelah pernikahanya, ia memulai aksinya. Ketika suami de Medici, King Henry II, meninggal, salah saru dari anaknya naik tahta pada usia 15 tahun, dan hanya setahun berikutnya meninggal. Kemudian de Medici membawa anaknya yang satu lagi (berusia 10 tahun) Charles IX untuk naik tahta.
Semalam Catherine de Medici memerintah di Prancis, terjadi beberapa peperangan antara kaum sipil dan kaum religi. Ia memang kurang berbakat dalam politik, tapi ia melakukan apa yang harusnya ia lakukan untuk kebersamaan anak-anaknya.
Tahun 1572, Charles IX mengambil langkah genocide (pembantaian), memerintahkan agar gerbang Paris ditutup dan ribuan umat protestan dibunuh. Dikenal dengan nama St. Bartholomew’s Day Massacre, nama de Medici-pun kena imbasnya sebagai orang yang memberi saran agar pembantaian dilakukan. Walaupun begitu, ia tetap menjadi orang yang diminta sarannya untuk raja berikutnya, Henry III (anak ketiganya).


5. Isabella I, pemersatu Spanyol

Ia dikenal dalam sejarah karena merupakan orang yang mendanai perjalanan Chrisopher Columbus. Ia selalu berusaha untuk mempersatukan Spanyol. Ia dikenang karena apa yang telah dilakukannya sampai sekarang, tapi Isabella sedikit “nakal”. Dalam rangka mempersatukan Spanyol, ia mewajibkan memeluk agama Katolik. Muslim dan Yahudi harus mengubah kepercayaan mereka atau keluar dari negara. Tahun 1480, Isabella dan suaminya menyatakan proklamasi Spanyol.


6. Maria Theresa

Seperti Catherine de Medici, Maria Theresa dari Austria tidak mempunyai pendidikan yang baik. Ia dibesarkan tanpa banyak mendapatkan pelatihan yang baik dan menikah dengan sepupunya.
Walaupun demikian, ia sudah ditakdirkan untuk mewarisi tahta Austria. Ketika kerajaan dibawah kepemimpinan dia di tahun 1740, kerajaan terpecah dan dalam invasi dari negara Eropa lainnya. Setelah hamil dan mempunyai 16 anak, Maria Theresa bangkit dan melawan balik.
Ia memimpin Austria selama 40 tahun dan melakukan reformasi dibidang obat-obatan, pendidikan dan keadilan.


7. Emmeline Pankhurst

Akhir tahun 1800-an di Inggris, Emmeline Pankhurst dibesarkan oleh kedua orang tuanya yang merupakan aktivis pendukung hak-hak perempuan untuk memilih. Akan tetapi mereka sendiri tidak percaya bahwa anak perempuan mereka tidak dapat bersaing dengan laki-laki. Karir wanita ini menanjak ketika ia menginjak usia 20 tahun. Ia menikah dengan pria yang mempunyai pemikiran terbuka dan mempunyai 4 anak
Tahun 1903, Pankhurst kecewa berat karena kurangnya hak-hak pemilih bagi wanita. Ia kemudian mendirikan WSPU (Women’s Social and Political Union). WSPU mencoba untuk memperjuangkan hak pilih. Langkah-langkah yang ditempuhnya pada mulanya baik yaitu aksi protes damai. Lalu kemudian menjadi lebih anarkis seperti memecahkan kaca-kaca dan pembakaran rumah dengan sengaja. Pankhurst lalu dijebloskan ke penjara beberapa kali.
Pankhurst akhirnya dapat melihat hasil perjuangannya, yaitu kesetaraan hak pemilih dengan pria pada tahun 1928.


8. Harriet Tubman

Terlahir sebagai budak, Harriet Tubman melarikan diri ke Utara pada tahun 1849. Tetapi kembali ke daerah perbudakan paling tidak 13 kali, untuk menyelamatkan budak-budak lainnya agar bebas. Harriet Tubman juga agak galak. Ia juga menggunakan revolver bukan hanya untuk mengancam tuan tanah atau anjing penjaga, tapi juga untuk mengancam budak yang lain untuk memberi semangat dan keberanian agar hidup bebas. Ada yang mengatakan bahwa pernah sekali ia mengacungkan pistolnya untuk budak lain sambil berkata “Anda mau pergi atau mati”.
Pada tahun 1874, Tubman dan suami keduanya mengadopsi bayi perempuan bernama Gertie. Walaupun ia banyak berkorban untuk Union Army semasa perang Saudara, namun ia hidup dalam kesulitan keuangan. Namun itu tidak membuat ia menyerah dalam memperjuangkan hak budak serta mendukung hak-hak wanita dan terus menyumbangkan tanah untuk lpembangunan gereja dan rumah jompo dan yatim.


9. Meena Keshwar Kamal, aktifis wanita Arganistan

Meena Keshwar Kamal baru berusia 20 tahun ketika pada tahun 1977 ia terjun dalam organisasi pergerakan untuk hak-hak wanita, RAWA (Revolutionary Association for the Women of Afghanistan).
Dengan para pelajar dari Kabul University, RAWA memprotes tindakan kedua belah pihak yang bertikai saat itu, yaitu Uni Soviet dan Fundamentalis afganistan. Meena, yang mempunyai 2 orang anak juga berjasa dalam membangun sekolah dan rumah sakit bagi para pengungsi Afghanistan dan Pakistan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar