Senin, 18 Juni 2012

5 Raja Eropa yang Kehilangan Takhta di Abad 20

Keadaan mengantarkannya pada tahta yang luar biasa. Tapi keadaan pula yang menjadikannya kehilangan kuasa. Intrik politik, permasalahan ekonomi, ketidak mampuan memimpin, peperangan  hingga konspirasi, menjadikan 5 raja-raja Eropa berikut kehilangan takhtanya yang telah terbangun ratusan tahun hingga ribuan tahun yang lalu. Berikut paparannya:


1. Raja Manuel II, Portugal
Bernama Manuel Maria Filipe Carlos Amélio Luís Miguel Rafael Gabriel Gonzaga Francisco de Assis Eugénio de Saxe-Coburgo-Gotha e Braganca — (lahir di Lisboa, 19 Maret 1889 – meninggal di Twickenham, Inggris, 2 Juli 1932 pada umur 43 tahun) berkuasa sebagai raja Portugal ke-34 dan raja terakhir Portugal dari tahun 1 Februari 1908 hingga 5 Oktober 1910.


2. Tsar Nikolas Romanov II, Rusia
Dikenal dengan nama Nikolas II atau Nikolai Aleksandrovich (18 Mei 1868–17 Juli 1918) ialah Tsar terakhir Kekaisaran Rusia. Pendukung politik damai di Eropa. Pada masa pemerintahannya terjadi peningkatan teror, perlawanan, dan kekacauan. Ia dipaksa untuk memberlakukan sebuah konstitusi bagi negerinya, namun membatasi pengaruh dan kekuasaan Majelis Perwakilan. Ia dipaksa turun tahta pada 1917 saat Revolusi Bolshevik dan dipenjarakan beserta seluruh keluarganya, kemudian semuanya dieksekusi.

3. Kaisar Wilhelm II, Jerman
Friedrich Wilhelm Viktor Albrecht von Preußen dari Prusia (27 Januari 1859 – 4 Juni 1941), adalah Kaisar Jerman terakhir (Kaiser) dan Raja Prusia, yang berkuasa pada 15 Juni 1888-9 November 1918. Dia adalah cucu dari Ratu Victoria Inggris, dan terkait dengan banyak raja dan pangeran di Eropa. Dinobatkan pada tahun 1888, ia menolak Kanselir Otto von Bismarck, permusuhan dalam urusan luar negeri, yang berpuncak pada dukungannya untuk Austria pada krisis musim panas tahun 1914 yang menyebabkan Perang Dunia I. Wilhelm sering melakukan kesalahan, membuat keputusan diplomatik besar sendiri, mengabaikan pemerintah sipil hingga memungkinkan para jenderalnya untuk mendikte kebijakannya selama Perang Dunia I. Seorang pemimpin perang tidak efektif, ia kehilangan dukungan dari militer, sampai akhirnya menyerahkan kekuasaannya setelah kalah perang pada bulan November 1918, dan melarikan diri ke pengasingan di Belanda.

4. Raja Charles I/IV, Austria-Hungaria
Charles I dari Austria atau Charles IV dari Hungaria bernama lengkap Karl Franz Joseph Ludwig Hubert Georg von Habsburg Otto Marie-Lothringen, (17 Agustus 1887-1 April 1922) adalah penguasa terakhir dari Kekaisaran Austro-Hungaria. Ia adalah kaisar terakhir dari Austria, Raja terakhir dari Hungaria, Raja terakhir dari Bohemia dan Kroasia dan Raja terakhir dari Galicia dan Lodomeria dan raja terakhir dari House of Habsburg-Lorraine. Dia memerintah sebagai Charles I sebagai Kaisar Austria dan Charles IV sebagai Raja Hungaria dari 1916 sampai 1918.  Charles kehilangan tahtanya ketika republik didirikan di dua kerajaan tersebut pada tahun 1918. Dia menghabiskan tahun-tahun sisa hidupnya, untuk  mencoba dan mengembalikan monarki sampai kematiannya pada tahun 1922.


5. Raja Peter II, Yugoslavia
Dikenal sebagai Petrus II Karadordevic  (6 September 1923 – 3 November 1970), adalah Raja ketiga dan terakhir Yugoslavia. Ia adalah putra tertua dari Raja Alexander I dan Putri Maria dari Rumania; walinya adalah George V dari Inggris. Pendidikannya dimulai di Royal Palace, kemudian di Sandroyd di Wiltshire, Inggris. Pada usia 11 tahun, Peter naik takhta Yugoslavia pada tahun 1934 atas pembunuhan ayahnya Raja Alexander I di Marseille, selama kunjungan kenegaraan ke Prancis. Tetapi kekuasannya berangsur-angsur tercabut darinya setelah meletusnya Perang Dunia ke 2 pada tahun 1939, dimana Nazi German berhasil menguasai negerinya. Setelah perang usai, negerinya diplokamirkan  menjadi sebuah republik oleh Joseph Broz Tito.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar