Selasa, 03 Juli 2012

Mahluk Dalam Mitologi Korea

Legenda Korea bercirikan banyaknya berbagai makhluk mitos, hantu, monster, dan naga. Banyak dari mereka berasal dari legenda China, tapi dengan cita rasa Korea yang unik. Sebagai ringkasnya, artikel ini berfokus pada spesies makhluk supranaturalnya dan bukan legendanya.

Dokkaebi

Figur dokkaebi berkisar antara sosok iblis dan troll membawa tongkat pemukul. Dikatakan dokkaebi bertransformasi dari objek mati, bukan roh seseorang yang sudah meninggal. Dokkaebi adalah makhluk nakal yang suka lelucon dan permainan, namun juga terkenal karena memberi hadiah pada orang baik. Mereka umumnya dianggap tak berbahaya dan punya kebiasaan menantang orang melakukan ssireum (gulat a la Korea). Jika kalian bertanding melawan dokkaebi , ingat jangan pernah mendorong mereka dari sebelah kiri, doronglah dari sebelah kanan. Menurut beberapa cerita, mereka gampang dikalahkan dengan memiting kaki mereka.

Dokkaebi memiliki beberapa barang magis. Damtu (감투), atau topi, membuat mereka tak nampak. Tongkat mereka disebut bangmangi (방망이), membuat mereka mampu mendatangkan barang apapun yang mereka mau (kirain buat mukul orang). Namun bangmangi tak bisa menciptakan sesuatu dari udara, mematuhi Hukum Termodinamis, sehingga apa yang mereka dapatkan sebetulnya diambil dari orang lain.

Nampaknya kecintaan dokkaebi pada permainan berakhir dengan terpilihnya sosok ini menjadi maskot Setan Merah, grup pendukung resmi tim sepakbola Korea. Wajahnya terinspirasi dari Chiwoo Cheonwang, tokoh berpengaruh di mitologi Korea dan China yang merupakan lambang kemenangan dan penjaga.


Haechi

Haechi ini harusnya gampang dikenali orang yang pernah ke Seoul, karena sudah menjadi simbol kota sejak tahun 2009. Diromanisasi dengan banyak cara, versi Chinanya bernama xiezhi, dan beberapa bahasa Korea menyebutnya haetae atau haitai.
Haechi nampak cute, tapi jangan pernah membiarkan anakmu bermain dengannya -.-
Haechi aslinya merupakan binatang sejenis campuran singa dan anjing penjaga, dengan tanduk di tengah kepala. Sering diartikan sebagai simbil keadilan, haechi adalah dekorasi yang biasa muncul dalam arsitektur China kuno dan Joseon.
Katanya haechi memakan api, mereka ditempatkan di gerbang masuk bangunan dan istana untuk mencegah kebakaran. Selama konstruksi Istana Gyeongbok, peramal memprediksi energi “yang” dari Gunung Gwanak di seberang sungai akan membawa bencana bagi negeri, oleh karena itu patung haechi dibandung untuk mencegah pertanda buruk.

Patung Haechi di depan Istana Gyeongbok
Mereka tak hanya melindungi kita dari bencana terkait api tetapi juga semua gangguan atau perubahan yang mengganggu, dengan mulut besar mereka yang disebut-sebut membentengi masa lalu.


Gumiho

Gumiho konon merupakan rubah yang hidup 1000 tahun, sehingga memiliki kekuatan untuk merubah wujudnya. Pilihan paling sering adalah rupa wanita cantik, dan gosipnya suka menggoda pria untuk diambil hatinya, atau dalam beberapa cerita lain memakan jantung. Meskipun, harus diingat kisah dalam My Girlfriend is a Nine-Tailed Fox ini merupakan rumor belaka yang menghancurkan reputasi karakter utama wanita dan membuatnya tak mendapatkan suami. Tentu saja dia masih memiliki niat meminum darah dan mengatakan pacarnya harus mati setelah 100 hari.

Dalam cerita yang lebih tradisional, gumiho memiliki sifat seperti rubah, dengan beberapa kisah menceritakan mereka lebih mirip setengah rubah dan setengah manusia, atau manusia rubah. Meskipun kehadiran dongeng (dan drama SBS) menggambarkan gumiho sebagai sesuatu yang baik, dan bahkan naif sehingga dimanfaatkan oleh manusia jahat, mereka mendapatkan reputasi sebagai iblis, kadang makhluk buas, yang menggoda pria dan mencuri di kuburan untuk memakan hati orang yang baru meninggal. Di salah satu cerita, gumiho berubah jadi pria untuk menggoda wanita.


Chollima

Chollima salah satu makhluk paling jelas dalam legenda Korea dan mudah dihubungkan dengan Pegasus Yunani. Namanya berarti “Kuda 1000-ri,” dengan “ri” merupakan ukuran jarak tradisional Korea. Karena definisi berbeda, ri disebutkan memiliki jarak 393 meter atau 2927 meter, ukuran terakhir diadopsi oleh Korea selama era kekaisaran Jepang. Penulis artikel ini menyebutkan kalau perkiraannya, chollima ini bisa berkelana sejauh 393 kilometer hanya dalam sehari yang merupakan panjang Semenanjung Korea dari utara hingga selatan.
Menurut legenda asli, chollima adalah kuda bersayap yang ingin dijinakkan. Karena tak ada satupun yang bisa menjinakkannya, dia terbang ke langit. Sekarang, romanisasi “Cheonma” lebih disukai, yang bisa ditemui di logo semen dan tim sepakbola.

Namun chollima merupakan sosok yang lebih berpengaruh di Korea Utara, di mana propaganda negara membawanya kembali ke bumi dan dia digambarkan dijinakkan oleh kaum protelar di sana.
Patung chollima setinggi 46 meter dibangun di Pyongyang, di mana kuda ini terlihat membawa seorang pekerja menggenggam alamat Partai Buruh Korea dan seorang wanita membawa beras. Chollima juga meminjamkan nama di sebuah daerah di Pyeongannam-do (Provinsi Pyeongan Selatan), begitu pula tim sepakbola nasional, studio film, dan bahkan jawaban Korea Utara tahun 1956 kepada Lompatan Jauh ke Depan China yang ditujukan untuk promosi perkembangan pesat perekonomian. Nama tersebut dimaksudkan sebagai kecepatan yang luar biasa dan digunakan sebagai slogan dan sorakan semangat kepada pemain sepakbola atau pekerja. Setelah Perang Korea, Korea Utara memakai slogan “Majulah dengan kecepatan Chollima!” Saat ini, Chollima sangat signifikan dalam wacana publik Korea Utara, mengingatkan mereka untuk mengabdikan hidup demi kerja keras.


Gwishin

Gwishin memiliki konsep yang sama dengan hantu di Barat dan bahkan Indonesia: mereka adalah jiwa gentayangan orang mati yang menolak pergi karena belum menyelesaikan sesuatu. Di kebanyakan cerita adalah balas dendam namun bisa juga karena ada alasan lain. Gwishin biasanya melayang, tak berkaki dan tembus pandang.

Mereka bisa memindahkan barang, dan kehadiran mereka ditandai dengan perasaan ngeri, angin sepoi dan sensasi dingin. Biasanya merupakan wanita atau anak gadis dengan rambut panjang, memakai pakaian berkabung warna putih. Tipe paling sering adalah cheonyeo-gwishin (hantu perawan), mul-gwishin (hantu air), mongdal-gwishin (hantu pria yang belum menikah) dan dalgyal-gwishin (hantu yang kepalanya berbentuk telur).


Ungnyeo
Ungnyeo merupakan sosok mahluk mitologi berasal negeri ginseng, sesosok beruang  yang bisa berubah menjadi seorang perempuan.
Dalam sebuah kisah, dikatakan seekor harimau dan beruang hidup bersama di dalam sebuah gua dan mereka berdoa memohon kepada dewa agung, Hwanung, untuk menjadi seorang manusia. Hwanung mendengar permohonan mereka, dan memberikan 20 lembar daun bawang putih,  serta beberapa tanaman, dan memberikan sebuah syarat kepada mereka untuk menjauhi cahaya matahari serta hanya memakan yang telah diberikan untuk selama 100 hari. Karena si harimau tidak memiliki kesabaran, ia keluar sebelum genap 100 hari. Sementara beruang tetap berada di dalam gua, dan menjadi seorang perempuan. Ungnyeo sangat berterimakasih kepada Hwanung.
Suami Ungnyeo yang selalu membuatnya tertekan, membuatnya berdoa di bawah pohon betula suci agar dianugerahi seorang anak. Hwanung kembali mendengar doanya, dan mengabulkan permohonannya. Ungnyeo  melakukan sebuah penawaran kepada Hwanung. Tak lama kemudian Hwanung pun memintanya untuk dijadikan istri setelah Hwanung melahirkan seorang anak, Dangun, yang kemudian menjadi nenek moyang bangsa Korea.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar