Google+ Followers

Jumat, 10 Februari 2017

Sultan Muslim dan 9 Orang Asing yang Bantu Kemerdekaan Amerika

Presiden Donald Trump membuat kebijakan pelarangan pengunjung dan imigran dari 7 negara berpenduduk mayoritas Muslim memasuki Amerika Serikat. Banyak pihak mengecamnya sebagai anti asing. Ternyata, Revolusi Amerika pun tidak terlepas dari peran sejumlah pihak asing yang bahkan menjadi penentu kemenangan Revolusi.
Selain nama Marquis de Lafayette dan Casimir Pulaski yang sering disebutkan, kutipan dari listverse.com pada Sabtu (11/2/2017) mengungkapkan sejumlah pihak lain.
Tanpa 10 orang ini, Amerika Serikat (AS) mungkin tidak bisa meraih kemerdekaan:

1. Crispus Attucks

(Public Domain)
Pria pertama yang bertempur dan tewas dalam Perang Kemerdekaan memang lahir di Amerika, tapi sesama warga tidak melihatnya sebagai bagian dari mereka.
Crispus Attucsk adalah seorang budak pelarian. Ia penah menjadi kelasi, namun majikannya menginginkannya kembali menjadi budak.
Suatu hari, Attucks dan sesama kelasi sedang ada di pub ketika seorang tentara Inggris masuk.
Kehadiran itu tidak disukai oleh kelasi setinggi 190 centimeter itu dan teman-temannya.
Tujuh tentara Inggris lain masuk membantu temannya dan mulailah terjadi kerusuhan. Pihak Inggris melepaskan tembakan dan Attucks melawan lalu merampas bayonet seorang prajurit dan menghajarnya. Prajurit itu sempat menembak sebelum tewas. Empat orang meninggal dunia.
Terjadi perdebatan sejarah tentang kepahlawanan Attuck. Ia melakukan aksi heroik atau sekedar mabuk. Yang jelas, dialah yang pertama meninggal dalam Pembantaian Boston.

2. Von Steuben

(Sumber Wikimedia)
Warga Amerika yang terjun dalam perang kemerdekaan tidak semuanya berpengalaman. Sebelum kedatangan Friedrich Wilhelm von Steuben dari Prussia, mereka menggunakan bayonet dari tusukan daging.
Von Steuben menyeberangi lautan untuk mengajarkan teknik bertempur kepada warga Amerika dan menjabat sebagai Inspektur Jenderal Angkatan Bersenjata Amerika dengan tugas melatih para prajurit dan mengorganisasikan latihan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah penggunaan bayonet dan hasilnya membuat perbedaan dalam pertempuran.
Padahal ia tidak berbahasa Inggris. Ia berbicara dalam bahasa Prussia, diterjemahkan sekretarisnya ke dalam bahasa Prancis, diterjemahkan lagi oleh sekretaris lain ke dalam bahasa Inggris.
Pada 1779, Jenderal Wayne menggunakan bahan ajaran Von Steuben untuk merebut Stony Brook tanpa satupun tembakan dilepaskan, hanya dengan menggunakan bayonet. Karena tanpa suara tembakan, ia dan 750 pasukannya bisa menyelinap dalam senyap.

3. Tadeusz Kosciuszko

(Sumber Wikimedia)
Tadeusz Kosciuszko adalah seorang kepala teknik di Angkatan Bersenjata AS. Ia merencanakan strategi pertahanan di Saratoga yang membalik jalannya perang yang menguntungkan pihak Amerika.
Ia membangun markas militer di West Point yang sekarang menjadi tempat Akademi Militer Amerika Serikat (AS).
Peran pentingnya justru dimulai setelah ia meninggal. Ia menjadi akrab dengan Thomas Jefferson yang dipercayakan untuk melakukan kehendak terakhirnya yaitu agar setiap uang yang dimilikinya dipakai untuk membebaskan dan mendidik para budak dari Afrika.
Thomas Jefferson sudah berusia 75 sehingga ia meneruskan tugas kepada orang lain yang ternyata tidak menginginkan tanggungjawab itu.
Akhirnya Kolonel George Bomford ditugaskan untuk itu, tapi ia malah menggunakan uangnya untuk diri sendiri. Ketika ia meninggal, hanya tersisa US$ 5.680 dari keseluruhan amanah Kosciuszko senilai US$ 43.504
Surat wasiatnya sampai di tangan Mahkamah Agung, tapi sekedar dilempar. Tidak ada uang sedikitpun yang dipakai untuk membebaskan para budak.

4. De Galvez

(Sumber Wikimedia)
Bernardo de Galvez adalah gubernur Louisiana yang pada masa itu masih menjadi koloni Spanyol. Ia sebenarnya bukan tertarik dengan alasan mendukung demokrasi, tapi lebih kepada ingin menyebabkan kerepotan bagi Inggris.
Karena itu, ketika Amerika memulai perang melawan Inggris, ia mulai mengirimkan apapun yang dia bisa. Ia menjanjikan semua senjata dan pengobatan yang bisa diraihnya, dengan peringatan, "Harus kelihatan seakan saya tidak tahu apapun."
Spanyol akhirnya masuk dalam perang terbuka pada 1779 dan De Galvez tidak perlu lagi menyembunyikan diri. Ia terjun dalam pertempuran dan dalam satu tahun mendesak Inggris keluar dari Mobile, Alabama. Setahun kemudian, ia mengusir Inggris dari Florida.

5. Moses Hazen

(Sumber Wikimedia)
Pada masa Perang Revolusi, Kanada merupakan koloni Inggris, sehingga mereka secara teknis adalah musuh Amerika. Tapi ada beberapa pihak yang berperang sepihak bersama Amerika. Pihak Amerika memang mengirimkan traktat politik dan para pengirim pesan untuk membujuk warga Kanada berganti pihak.
Sekelompok warga Kanada yang kebanyakan merupakan keturunan Prancis kemudian bergabung dengan Amerika sehingga ada dua Resimen Kanada dalam pasukan.
Kelompok pertama berada di bawah pimpinan Benedict Arnold yang pernah mencoba merebut Quebec, namun gagal. Kemudian, selama perang, ia berpangkalan di New York.
Resimen ke dua dipimpin oleh Moses Hazen yang memimpin dalam beberapa pertempuran paling penting selama perang, termasuk Pendudukan Yorktown yang menjadi pertempuran penyelesaian perang.
Ketika perang usai, Moses Hazen dan sesama pasukan Kanada tidak bisa pulang sehingga kemudian tinggal di Amerika Serikat.

6. Antonio Barcelo

(Sumber Wikimedia)
Kita biasanya menduga Revolusi Amerika hanya berlangsung di tanah Amerika. Ternyata, Spanyol dan Prancis berperang berhadapan langsung dengan Inggris. Perang terbesar dan terlama pada masa itu terjadi di Gibraltar, pulau 5 kilometer persegi di Eropa yang memiliki letak strategis.
Pada 24 Juni 1779, armada kapal-kapal Prancis dan Spanyol mencoba merebutnya hingga 3 tahun kemudian. Serangan terbaik merupakan gagasan Antonio Barcelo dengan armada kapal-kapal kecil pembawa meriam-meriam yang disebut dengan “baterai terapung.” Tidak mempan dan dihadang pihak Inggris, tapi hanya sampai di situ.
Pengepungan baru berakhir setelah penandatanganan perjanjian perdamaian.

7. Goetschius

(Sumber Donna White)
Pada tahun-tahun awal, banyak pemukim Belanda di Amerika Serikat dengan komunitas sendiri yang sepertinya terpisah dari seluruh Amerika, tapi hal itu membantu dalam Revolusi Amerika.
Setelah pihak Inggris merebut New Jersey, John Mauritius Goetschius membentuk milisi gerilya petani Belanda dan menyerang balik. Mereka menyerbu di malam hari dan, ketika sudah pagi, kembali berpura-pura menjadi petani yang tidak tahu apa-apa.
Walaupun bertani, mereka memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat. Pada 1781, ketika Washington mengirimkan pasukan untuk merebut Fort Lee di New Jersey dari para pendukung Inggris, ternyata pasukan gerilya Goetschius sudah terlebih dulu merebutnya.

8. Tewahangarahken

(Sumber Allison Giles)
Tidak ada yang lebih Amerika daripada Pribumi Amerika, tapi mereka kerap tidak diperlakukan demikian.
Ada peran mereka dalam Perang Revolusi yang seakan tidak dikenal. Memang, kebanyakan berpihak kepada Inggris kalau mereka diharuskan memihak.
Tentu saja masuk akal, karena keinginan Amerika merdeka adalah agar bisa mendapatkan tanah warga pribumi.
Tapi suku Oneida menolak mempercayai bahwa bangsa Amerika tidak bermaksud mencederai mereka. Kontak utama dengan bangsa Eropa dilakukan melalui misionaris Samuel Kirkland yang juga baik kepada mereka.
Jadi, ketika mereka tahu bahwa teman-teman Kirkland memerlukan bantuan, mereka mengangkat senjata dan bertempur di pihak yang sama.
Suku Oneida beperan sebagai pemandu, mengusik pos-pos Inggris, dan ikut dalam beberapa pertempuran secara hebat. Dalam Pertempuran Oriskany, Kepala Suku Tewahangarahken sendirian menghabisi 9 tentara Inggris.
Walaupun begitu, mereka harus berjuang meyakinkan Amerika bahwa mereka sepihak. Suatu saat, mereka mengirimkan 6 tawanan dari suku lain dan menyelamatkan seorang pasukan Amerika. Pihak Amerika malah meminta kulit kepala.
Suku Oneida kemudian mengirimkan surat penjelasan, "Kami tidak menerima kulit kepala. Semoga Anda sekarang yakin dengan persabahatan terhadapmu dan tujuan muliamu."

9. Rochambeau

(Sumber Wikimedia)
Pertempuran penentu Revolusi Amerika terjadi ketika George Washington memimpin pasukan Amerika berperang melawan Inggris di Yorktown. Tapi, Washington tidak sendirian. Ia bersama-sama dengan pasukan besar dan kapal-kapal Prancis di bawah pimpinan
Pengepungan Yorktown berakhir dan pihak Inggris menyerah. Pimpinan Inggris saat itu, Lord Cornwallis menolak berhadapan dengan musuh untuk kemudian menyerah. Ia meminta wakilnya, Brigadir Jenderal O'Hara yang kemudian menyerahkan pedang tanda menyerah kepada Rochambeau.
Tapi, Rochambeau menolaknya karena menurutnya perang ini milik Amerika. Ia bersikeras agar pihak Inggris menyerah kepada George Washington yang kemudian juga menolak penyerahan pedang.
Ia meminta O'Hara menyerah kepada wakilnya dalam jenjang komando, Benjamin Lincoln.
Sebelumnya Lincoln pernah dihajar pasukan Inggris dalam pertempuran di Charleston dan tidak mendapat kesempatan menyerah secara layak. Washington ingin agar Lincoln mengalaminya sendiri.

10. Hyder Ali

(Sumber Wikimedia)
Perang terakhir dalam Revolusi Amerika tidak berlangsung di tanah Amerika, tapi di India. Pada Abad ke-18, komunikasi tidak berlangsung segera sehingga pihak yang bertempur di suatu bagian dunia tidak mengetahui bahwa perang telah selesai.
India menjadi tempat pertempuran Revolusi Amerika selama 5 tahun peperangan. Ketika Prancis menyatakan perang melawan Inggris, pihak East India Company mulai menyerbu koloni Prancis di India.
Hyder Ali, Sultan muslim asal Mysore, India, berpihak kepada Prancis dan memimpin pertempuran di India.
Ketika Hyder Ali wafat pada 1783, pihak Inggris maju pesat menuju wilayah koloni Prancis.
Pihak Inggris memindahkan pasukan ke Cuddalore, suatu kota di Teluk Bengal, dan hampir mencaploknya. Pihak Prancis mengirimkan armada untuk menahan dan melawan.
Pasukan Prancis dan Mysorea bertempur di seluruh India untuk menahan Inggris. Lalu, pada 29 Juni 1783, datanglah berita bahwa perang sudah usai 8 bulan sebelumnya.


Sumber : Yahoo

1 komentar: