Google+ Followers

Selasa, 11 November 2014

6 Kisah Cinta yang Paling Indah Sekaligus Tragis dalam Sejarah

Berabad-abad setelah William Shakespeare mengajukan pertanyaan menggelitik, “apa itu cinta?“, para ilmuwan akhirnya menemukan alternatif jawaban: Otak Manusia. Rasa itu berada dalam pikiran kita, sebuah emosi kompleks yang melibatkan 12 area spesifik otak — yang membentuk jaringan cinta.
Di sisi lain, sejarah mencatat, cinta menjadi alasan sejumlah orang melakukan tindakan luar biasa. Kisah-kisah gairah tak berbalas dan kematian dalam drama ala Shakespeare sejatinya ada di kehidupan nyata.
Berikur 5 kisah cinta paling tragis dalam sejarah, seperti yang dikutip dari Liputan6.com yang melansir dari situs LiveScience:

1. Presiden AS Andrew Jackson dan Rachel Donelson

Rachel Donelson adalah Ibu Negara Amerika Serikat yang paling kontroversial. Ia menikahi Lewis Robard, tuan tanah dari Kentucky dan bercerai pada 1790, sebelum menjadi istri Andrew Jackson pada 1791.
Rachel percaya mantan suaminya telah mengurus proses perceraiannya. Namun, nyatanya, Lewis Robards tak secara resmi mengajukan cerai hingga 1793. Secara teknis, ia menjalani bigami — menikah dengan 2 pria sekaligus.
Sontak, fakta itu menghebohkan. Di masa itu, bahkan perceraian yang mulus dianggap skandal.
Lawan politik Andrew Jackson, para pendukung John Quincy Adams, menggunakan masa lalu Rachel sebagai amunisi untuk menghalanginya maju sebagai presiden. Menyebutnya sebagai perempuan ‘tak bermoral’.
Meski dilanda cobaan berat, baik Andrew Jackson maupun Rachel tetap bersatu. Setelah urusan beres, mereka menikah ulang pada 1794.
Namun, tekanan akibat masalah tersebut diduga membuat kesehatan Rachel bermasalah. Ia tak pernah melihat orang yang ia cintai menjadi presiden. Dua bulan sebelum Andrew Jackson disumpah menjadi Presiden ke-7 AS, ia meninggal akibat serangan jantung pada 22 Desember 1828.
Jackson yang sangat terpukul dengan kepergian istri tercinta dilaporkan tak beranjak dari sisi jasad Rachel, berharap ia akan hidup lagi. Pada hari pemakaman Rachel, sekitar 10 ribu orang berkumpul. Kulit hitam dan putih, kaya ataupun miskin, sebuah simbol demokrasi yang dikampanyekan Andrew Jackson — yang punya slogan terkenal, “Berikan pemerintahan kepada rakyat.”.
Jasad Rachel dibalut gaun dan sandal putih, yang rencananya akan ia kenakan dalam pelantikan sang suami sebagai presiden.
Dalam sambutannya, Jackson yang berduka bicara, “Saat ini aku adalah Presiden AS dan dalam waktu tak lama aku akan memajukan negaraku. Aku bersyukur diberi kesempatan untuk membuatnya berada di sisiku di tempat yang terhormat, namun Yang Maha Kuasa lebih tahu, apa yang terbaik baginya,”.
Sejumlah media massa yang sebelumnya menyerang Rachel Jackson kini berduka atas kepergiannya. Salah satunya edisi 23 Desember 1828 Nashville Whig. Sementara, The Washington Telegraph menulis bahwa,” AS telah kehilangan salah satu bagiannya yang penting.”

2. Ratu Victoria dan Pangeran Albert

Cinta Ratu Victoria pada suaminya, Pangeran Albert — pangeran tampan dari Jerman sangat mendalam. Selama 17 tahun bersama, pasangan tersebut dianugerahi 9 anak: 4 pria, 5 perempuan.
Hati Victoria hancur saat orang yang dicintainya meninggal dunia pada 1861. Setelah itu, di sepanjang hidupnya sang ratu mengenakan pakaian hitam. Hingga ia mangkat pada 1901.
Namun, menurut sejarawan Jane Ridley, seperti dikutip dari BBC, kisah cinta pasangan tersebut diwarnai perebutan kekuasaan. Albert mengambil tanggung jawab Victoria sebagai ratu saat kehamilan membuatnya menyingkir sejenak dari singgasana.
Suasana hati Victoria campur aduk tak karuan. Di satu sisi ia mengagumi kemampuan dan talenta suaminya, namun di sisi lain ia merasa kekuasaannya dirampas. Sementara, Albert tak tahan menghadapi ledakan kemarahan sang istri, diam-diam khawatir pasangannya itu mewarisi kegilaan George III.
Hubungan Victoria dengan anak pertamanya Bertie — yang kemudian menjadi Edward VII sangat buruk.
Saat Bertie berusia 19 tahun, ia ikut latihan militer di Irlandia. Di sana seorang perempuan bereputasi buruk, Nellie Clifden diselundupkan ke tempat tidurnya.
Saat mendengar cerita itu, Pangeran Albert sangat kecewa, ia menyurati putranya itu, surat yang panjang berisi kekecewaan.
Ayah dan anak itu bertemu di Cambridge, keduanya berjalan bersama, bicara panjang, di tengah guyuran hujan. Albert kembali ke Windsor dalam kondisi sakit. Tiga pekan kemudian ia meninggal dunia.
Albert diduga sakit akibat tifus. Teori lain menyebut, ia menderita penyakit Crohn. Setelahnya, Victoria menyalahkan Bertie. Ia tak tahan berada dekat-dekat penerus takhtanya itu. “Aku tak bisa melihatnya tanpa merasa begidik,” tulis dia seperti dimuat BBC.
Selama 40 tahun berikutnya, Victoria mengenakan pakaian berkabung warna hitam dan jarang tampil di depan publik. Bagi rakyatnya ia adalah ‘janda Windsor’ yang tampak menyedihkan dan diselubungi duka.
Namun faktanya, menurut Jane Ridley, ia berhasil mendidik secara luar biasa dan menuntun anak-anaknya dengan baik.

3. Ines de Castro dan Raja Pedro

Ines de Castro menjadi pembantu Putri Constance — yang menikahi putra mahkota Portugal, Pedro. Sang pangeran yang tertarik dengan kecantikannya mulai mengabaikan istri resminya itu.
Setelah Constance meninggal dunia pada 1349, Pedo mencoba menjadikan Ines sebagai ratunya — saat itu mereka sudah punya 3 anak. Namun, ayahnya, Raja Afonso IV menentangnya.
Raja Afonso IV yang berusaha menyingkirkan Ines mengirimkan para bawahannya lvaro Goncalves dan Diogo Lopes Pacheco ke Biara Santa Clara-a-Velha di Coimbra, di mana perempuan itu ditahan.
Ines dibunuh dan dipenggal di depan anaknya yang masih kecil. Aksi itu memicu perang saudara antara ayah dan anak. Saat mendengar berita itu, Pedro menangkap dua algojo itu pada 1361 dan mengeksekusi mereka di depan umum.
Pedro pun menjadi Raja Portugal pada 1357. Ia mengaku telah menikahi Ines diam-diam, dan mengangkatnya sebagai ratu. Legenda menyebut, ia menggali makam Ines dan memaksa seluruh pejabat dan abdinya mengucap sumpah setia pada ratu yang baru dengan cara mencium tengkorak tangannya.
Ines kemudian dimakamkan di Biara 4 Alcobaca, bersisian dengan Pedro yang mangkat pada 18 January 1367. Dua peti marmer yang indah dilengkapi relief kehidupan mereka. Juga janji Pedro bahwa mereka akan bersama até ao fim do mundo — hingga akhir dunia.

4. Shah Jahan dan Mumtaz Mahal

Taj Mahal yang mahal dan megah dibangun oleh seorang raja yang patah hati ditinggal istri yang ia cintai.
Monumen itu dibangun pada Abad ke-7 oleh Shah Jahan sebagai makam bagi perempuan yang ia cintai Mumtaz Mahal.
Meski merupakan istri ketiga sang penguasa, Mumtaz Mahal menjadi favorit Shah Jahan. Saat pasangannya itu meninggal dunia saat melahirkan anaknya, ia cepat-cepat membangun Taj Mahal. Butuh waktu 23 tahun untuk menuntaskan bangunan itu.
Sang maharaja sebenarnya ingin membangun Taj Mahal yang lain untuk menjadi peristirahatannya terakhir. Bedanya, yang ini dibangun dari marmer hitam. Serba gelap. Sebagai tanda duka cita yang mendalam akibat ditinggal sang istri terkasih.
Kemudian, sang maharaja juga ingin membangun jembatan yang menghubungkan 2 Taj Mahal — hitam dan putih — melintasi Sungai Yamuna. Namun, rencana itu kabarnya digagalkan oleh putranya.
Namun, para pejabat Archaeological Survey of India (ASI) menekankan, tak ada bukti sejarah yang membuktikan eksistensi Taj Mahal versi hitam. Menyebutnya, itu hanya cerita yang sering disampaikan pemandu wisata untuk menarik para pengunjung.

5. Heloise dan Abelard

Penyair Inggris Alexander Pope membuat Heloise dan Abelard menjadi bagian dari literatur klasik. Namun, sejatinya itu adalah kisah nyata sepasang anak manusia yang berakhir tragis pada Abad ke-12.
Heloise d’Argenteuil adalah murid dari Peter Abelard — filsuf, ahli teologi, sekaligus ahli logika terkemuda di zamannya yang lahir tahun 1079. Chambers Biographical Dictionary bahkan menyebutnya sebagai “Pemikir paling tajam dan teolog paling berani dari abad ke-12″.
Meski usia mereka terpaut 20 tahun, keduanya jatuh cinta. Saat Heloise hamil, mereka melarikan diri dari Prancis ke Inggris — tempat lahir Abelard.
Untuk melindungi perempuan yang ia cintai, Abelard menyelundupkan Heloise ke biara Argenteuil.
Paman Heloise sekaligus orang berpengaruh di Notre Dame, Canon Fulbert yang murka mendengar hubungan mereka menyerang dan mengebiri Abelard — yang belakangan memilih masuk biara.
Pasangan yang tinggal terpisah di biara berbeda setiap hari saling berkirim surat cinta hingga akhir hidupnya, meski keduanya tak akan pernah bertemu lagi
“Beberapa ratus tahun kemudian, Josephine Bonaparte, yang tersentuh kisah cinta keduanya memerintahkan jasad Abelard dan Heloise dimakamkan bersama di pemakaman Pere Lachaise di Paris,” demikian dikutip dari situs abelardandheloise.com. Lepas dari klaim tersebut, hingga kini makam pasangan itu masih jadi subjek kontroversi.

6. Cleopatra dan Mark Antony

Mereka bertemu pada tahun 41 Sebelum Masehi, pada masa penuh gejolak di Republik Romawi.
Seorang ratu Mesir, Cleopatra menggoda jenderal perang berkuasa dan sudah menikah untuk memperkuat aliansi dengan Romawi: Mark Antony.
Cleopatra yang naik takhta pada usia 18 tahun adalah penguasa Mesir bersama ayahnya Ptolemeus XII, saudara laki-laki sekaligus suaminya: Ptolemeus XIII dan Ptolemeus XIV, dan akhirnya anaknya Caesarion. Ia berhasil mengatasi kudeta yang dirancang oleh pendukung saudara laki-lakinya dengan bersekutu dengan Julius Caesar dan lalu Mark Antony.
Cleopatra memiliki 1 anak dari Julius Caesar dan 3 anak dari Mark Antony.
Cleopatra dan putranya dari Julius Caesar, Caesarion mengunjungi Roma pada tahun 47 SM sampai tahun 41 SM dan hadir ketika Caesar dibunuh pada tanggal 15 Maret 44 SM. Cleopatra ingin putranya menjadi ahli waris Romawi, tetapi Caesar menolak dan lebih memilih cucu lelakinya, Oktavianus atau Octavian.
Kemudian Ratu Mesir itu bertemu dengan Mark Antony dan bersekutu dengannya. Mereka bahkan dikabarkan telah menikah berdasarkan ritus Mesir, meski sang mempelai pria masih terikat pernikahan dengan Octavia Minor.
Saat Oktavianus mengobarkan perang atas Mesir pada 31 Sebelum Masehi, Mark Antony dan Cleopatra bunuh diri.
Antony melakukan aksi bunuh diri dengan menikam dirinya dengan pedang pada tanggal 12 Agustus 30 SM. Sementara Cleopatra dengan cara memasukkan tangannya sendiri ke dalam keranjang penuh ular berbisa.


Sumber : Yahoo & Terselubung

1 komentar: